Kebakaran Hutan dan Rewilding: Benarkah Pemulihan Alam Memicu Api?

Kebakaran hutan kembali menjadi perhatian setelah berbagai wilayah di dunia menghadapi musim kebakaran yang berat sepanjang 2026. Hutan tua di Kanada, lahan gambut di Indonesia hingga heathland di Inggris ikut terdampak. Di tengah kondisi ini, muncul perdebatan menarik: apakah rewilding atau upaya mengembalikan proses alami ekosistem justru membuat lanskap lebih mudah terbakar?

Pertanyaan tersebut dibahas Global Landscapes Forum (GLF) melalui ThinkLandscape dalam TalkLandscape episode 15 bersama Joe Glentworth, dosen nature recovery and rewilding dari University of Manchester. Artikel tersebut terbit pada 17 September 2026 dan mengangkat hubungan antara rewilding, restorasi alam, pengelolaan kebakaran, serta peran manusia dalam menjaga lanskap yang dipulihkan.

Apa Itu Rewilding?

Rewilding bukan sekadar membiarkan suatu kawasan tanpa pengelolaan. Konsep ini berupaya mengembalikan proses ekologis, keragaman hayati dan fungsi alami sebuah lanskap. Bentuknya bisa berbeda tergantung kondisi wilayah, mulai dari pemulihan habitat, pengelolaan vegetasi, pemulihan lahan basah sampai mengembalikan peran satwa dalam membentuk struktur ekosistem.

Karena setiap lanskap punya sejarah dan karakter berbeda, dampaknya terhadap risiko kebakaran juga tidak bisa disamaratakan. Kajian ilmiah yang terbit di Perspectives in Ecology and Conservation pada 2025 menekankan bahwa hubungan api dan rewilding sangat bergantung pada konteks. Api dapat menjadi bagian penting dari proses ekosistem tertentu, tetapi juga bisa menjadi ancaman besar bagi masyarakat dan alam.

Bukan Sekadar Soal Banyaknya Vegetasi

Salah satu kekhawatiran terhadap rewilding adalah meningkatnya bahan bakar alami ketika aktivitas seperti penggembalaan, pemotongan vegetasi atau pembakaran terkendali dikurangi. Namun, melihat risiko kebakaran hanya dari jumlah vegetasi bisa memberikan gambaran yang terlalu sederhana.

Lanskap yang lebih beragam dapat memiliki kombinasi hutan, padang rumput, semak, lahan basah dan area terbuka. Struktur seperti ini dapat memengaruhi bagaimana api bergerak. European Environment Agency juga mencatat bahwa diversifikasi lanskap dan jenis pohon, regenerasi alami serta perluasan kawasan yang terlindungi dapat mendukung ketahanan hutan terhadap berbagai tekanan, termasuk perubahan iklim.

Peran Api dalam Ekosistem

Api tidak selalu memiliki dampak yang sama. Pada ekosistem tertentu, kebakaran dengan intensitas rendah merupakan bagian dari proses ekologis dan dapat membantu siklus nutrisi, regenerasi serta menjaga karakter habitat. Sebaliknya, kebakaran ekstrem dapat merusak vegetasi, tanah, keanekaragaman hayati dan kehidupan masyarakat.

Penelitian yang membahas peran api dalam rewilding menyebutkan empat sudut pandang utama: api sebagai proses ekosistem yang dapat dipulihkan, api sebagai risiko sosial-ekologis yang perlu dicegah, api sebagai potensi bahaya dalam proses rewilding yang harus dikelola, serta api sebagai alat pengelolaan yang bisa terpengaruh oleh perubahan lanskap.

Manusia Tetap Punya Peran

Rewilding tidak berarti manusia sepenuhnya keluar dari lanskap. Pemantauan, pengelolaan risiko, pemulihan habitat, sistem peringatan dan respons kebakaran tetap dibutuhkan. Kondisi cuaca panas dan kering, perubahan penggunaan lahan, sumber api dari aktivitas manusia serta karakter vegetasi perlu diperhatikan secara bersama.

Dengan begitu, pertanyaan tentang apakah rewilding menyebabkan kebakaran tidak bisa dijawab hanya dengan “ya” atau “tidak”. Yang lebih penting adalah bagaimana proses pemulihan dirancang sesuai karakter ekosistem, riwayat kebakaran dan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.

Bagi Indonesia, pembahasan ini relevan untuk pengelolaan hutan, gambut dan lanskap yang rentan kebakaran. Pendekatan restorasi perlu berjalan bersama pemantauan, pengelolaan vegetasi dan keterlibatan masyarakat agar pemulihan ekosistem tidak berhenti pada penanaman atau pelepasan lahan, tetapi menghasilkan lanskap yang lebih sehat dan tangguh.

Pelajaran untuk Restorasi Lanskap

Pembahasan ini menunjukkan bahwa restorasi membutuhkan perencanaan. Kondisi tanah, air, jenis vegetasi, koridor satwa, pola penggunaan lahan dan akses masyarakat perlu dibaca sebagai satu kesatuan. Strategi yang berhasil di satu negara belum tentu cocok diterapkan di wilayah lain. Karena itu, keputusan pengelolaan didukung data, pemetaan risiko dan evaluasi berkala. Pendekatan ini membuat restorasi adaptif ketika kondisi iklim dan ancaman kebakaran berubah.

Sumber utama: Global Landscapes Forum (ThinkLandscape), “Does rewilding really cause wildfires?”, 17 September 2026

More From Author

Mobil Hybrid Makin Menarik: Kenali Jenis, Spesifikasi, dan Kisaran Harganya

Industrialisasi Hijau Buka Peluang Baru bagi Tenaga Kerja Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *