Oleh : Lisa Noviani (Praktisi Market Research dan Pemerhati Pasar)
Dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2025, tercatat sebanyak 96,48 juta penduduk RI adalah jadi pekerja penuh. Jumlah pengangguran sebanyak 7,28 juta orang, dan ada sebanyak 86,56 juta orang bekerja di sektor informal. Pekerjaan informal mencakup driver ojek online, pedagang kaki lima, pegawai toko, ART, affliator online shop, kurir online, tukang parkir dan lainnya.
Bisnis transportasi online di Indonesia, dimulai tahun 2010, dengan hadirnya Go-Jek di Jakarta. Waktu itu Go-Jek masih menggunalan call center untuk pemesanan armadanya. Kemudian, berturut-turut hadir Grab (2014), Uber (2014), Maxim (2018), dan InDrive (2019). Disamping merek-merek ini, saat ini ada beberapa peruahaan transportasi lainnya yang masih aktif beroperasi, yaitu: Nujek, Anterin, Bonceng, Xanh SM dan Zendo.
Beberapa merek yang pernah melayani pasar Indonesia, diantaranya Uber, yang sebenarnya termasuk pionir, karena mulai operasional pada Agustus 2014 berbarengan dengan Grab. Uber menyerah berebut pasar di Indonesia, dan akhirnya diakuisisi oleh Grab pada tahun 2018. Merek-merek lainnya yang juga sudah menghilang, adalah: Call Jack, Ojekkoe, TopJek, OjekArgo, adyjek, Blujek, dan Smartjek.
Kinerja Keuangan Operator Bisnis Transportasi Online
GoTo, hampir sepanjang berdirinya (berdiri 17 Mei 2021), masih mengalami kerugian. Tahun 2022 sebesar Rp 30.33 T, tahun 2023 sebesar Rp 10.28 T dan tahun 2024 sebesar Rp 2.24 T (Sumber: laporan Tahunan 2024). Kerugian yang dialami GoTo pada tahun berjalan GoTo pada tahun 2022 sebesar Rp 40.54 T, tahun 2023 sebesar Rp 90.52 T dan tahun 2024 sebesar Rp 5.46 T (Sumber: laporan Tahunan 2024).
Begitu juga Grab, yang melaporkan secara regional (negara-negara di Asia Tenggara), masih mengalami kerugian pada bisnisnya.
Bisnis Transportasi Online
Dikutip dari Government Relation Specialist Maxim Indonesia Muhammad Rafi Assegaf: jumlah pengemudi ojol adalah 7 juta orang. Seperempatnya ada di Jabodetabek. Jika mengambil asumsi dari data BPS, bahwa jumlah anggota dalam satu KK sekitar 3.9 orang, dan kita asumsikan para Ojol hanya membiayai satu anggota keluarganya, maka ada sekitar 14 juta penduduk Indonesia yang hidupnya tergantung pada aktifitas transportasi online ini. Yang berarti sekitar 5% dari total penduduk Indonesia saat ini. Ini merupakan jumlah yang sangat besar.
Hingga saat ini, industri transportasi online ini, masih bertumbuh pesat, dengan rata-rata peningkatan lebih dari 7% per tahun.
Regulasi Pemerintah
Kemenhub dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 1001 tahun 2022 tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi: batas potongan maksimal yang bisa diambil perusahaan ojek online (ojol) terhadap para pengemudi sebesar 20%.
Melalui Kepmen Nomor KP 1001/2022, diputuskanperusahaan aplikasi menerapkan biaya tidak langsung berupa biaya sewa penggunaan aplikasi paling tinggi 15% dan/atau biaya penunjang berupa biaya dukungan kesejahteraan mitra pengemudi paling tinggi 5%.
Kemenhub mengatakan tidak bisa menindak pelanggaran. Yang bisa menegur adalah Komdigi
Penghasilan Pekerja Ojol
Pekerja transportasi online (ojol), memiliki profil yang sangat lebar. Dari yang tidak memiliki pendidikan formal, hingga yang merupakan pemilik gelar Strata 2. Rata-rata merupakan pekerja keras, dengan:
- 10 pesanan per hari
- Menempuh jarak sekitar 42 km
- Dengan waktu kerja 11 jam
Jika nilai bisnis transportasi online tahun 2024 adalah sebesar Rp 57.7 T , maka ini berarti penghasilan ojol per bulan adalah Rp 8.24 juta,. Dengan asumsi mereka bekerja selama 25 hari dalam sebulan, maka total pendapatan per hari adalah Rp 192 ribu. Adapun rata-rata penghasilan ojol per hari, selama tahun 2018- 2025 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel. Rata-rata Penghasilan Ojol Per Hari
(Tahun 2018 – 2025)
Sumber: Survei Institute for Demographic
and Poverty Studies (2018-2023)
* Perkiraan Dinamic Research
Pendapatan Ojol ini masih dikurangi dengan pembelian BBM, dan kebutuhan makan minum sang pengemudi. Jika diasumsikan pengeluaran harian (BBM+makan) sekitar Rp 75 ribu, maka total penghasilan ojol (anggap bekerja 25 hari dalam sebulan) adalah Rp 2.932.150.
Di luar kebutuhan mereka untuk membayar cicilan kendaraan (mobil motor) yang menjadi alat utama bekerja.

