Selandia Baru — Bencana alam menerjang bagian utara Pulau Utara Selandia Baru pada Kamis pagi (22 Januari 2026), ketika tanah longsor besar menghantam sebuah rumah dan sebuah area perkemahan populer, merenggut nyawa setidaknya dua orang dan membuat puluhan lainnya hilang atau belum ditemukan di tengah operasi penyelamatan yang dramatis.
Longsor pertama terjadi sekitar pukul 04.50 waktu setempat di komunitas Welcome Bay, di mana sebuah rumah hancur setelah lereng bukit mendadak turun menutup bangunan. Dua orang berhasil keluar, namun sayangnya dua penghuni rumah ditemukan meninggal dunia beberapa jam kemudian oleh tim penyelamat.
Tak lama setelah itu, kejadian lebih parah terjadi di Beachside Holiday Park, area perkemahan yang berada di kaki gunung Mount Maunganui destinasi favorit liburan musim panas. Tanah longsor menyapu tenda-tenda, campervan, kendaraan, serta fasilitas mandi dan toilet, menciptakan medan lumpur yang kacau dan berbahaya.
Suasana di Lokasi: Suara Teriakan dan Kekacauan
Saksi mata di lokasi mengatakan mereka mendengar suara dentuman dan teriakan ketika material tanah longsor turun dengan cepat, menghantam apa pun yang ada di jalurnya. Petugas awalnya sempat mendengar suara orang yang kemungkinan masih hidup di bawah tumpukan lumpur, namun suara itu lenyap saat upaya penyelamatan dipaksa ditunda karena tanah masih bergerak dan berisiko.
Seorang pemadam kebakaran senior, William Pike, kepada wartawan mengatakan timnya terpaksa mundur sementara karena situasi tanah yang tidak stabil membahayakan keselamatan para penyelamat.
Menurut laporan media internasional, setidaknya enam orang, termasuk remaja dan mungkin anak-anak, masih belum ditemukan setelah tanah longsor besar itu. Beberapa orang lain juga diyakini telah meninggalkan lokasi tanpa melapor, membuat angka korban belum pasti.
Polisi setempat menyebut jumlah orang yang hilang berada dalam “bilangan satu digit,” namun upaya pencarian tetap sulit karena kondisi area yang masih rawan tanah bergerak lagi.
Kondisi Cuaca Ekstrem dan Penyebab Longsor
Bencana ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang menghantam wilayah Bay of Plenty dalam beberapa hari terakhir dengan laporan bahwa wilayah ini mencatat curah hujan tertinggi dalam sejarahnya, setara lebih dari dua setengah bulan hujan turun hanya dalam sekitar 12 jam. Hujan deras ini membuat lereng gunung dan tanah di lokasi menjadi sangat rapuh, sehingga longsor besar seperti ini pun terjadi.
Laporan cuaca juga memperlihatkan banjir dan jalanan yang rusak di berbagai bagian Pulau Utara akibat hujan yang sama, dengan banyak jalan utama ditutup dan ribuan warga mengalami pemadaman listrik.
Tanggapan Pemerintah dan Operasi SAR
Prime Minister Christopher Luxon menyatakan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban dan menegaskan bahwa pemerintah menyediakan dukungan penuh bagi komunitas terdampak. Ia memantau langsung operasi penyelamatan yang melibatkan polisi, petugas pemadam kebakaran, serta sniffer dogs dan alat berat.
Tim SAR bekerja tanpa henti meskipun kondisi medan sangat berbahaya. Mereka juga dibantu oleh helikopter untuk menjangkau area yang sulit diakses. Selama pencarian, beberapa jalan terputus dan beberapa area dinyatakan tidak aman untuk dilintasi karena risiko longsor susulan.
Reaksi Warga dan Komunitas Internasional
Reaksi warga lokal sangat emosional. Banyak yang menyampaikan duka cita lewat media sosial, termasuk keluarga internasional dari korban seperti yang dikonfirmasi oleh duta besar China bahwa salah satu korban meninggal merupakan warga negaranya.
Penduduk sekitar bercerita bagaimana mereka langsung berlari membantu orang yang terjebak ketika kejadian berlangsung, dan bagaimana panik serta kekacauan memenuhi lokasi setelah tanah ambruk.
Sumber & Referensi
- Laporan utama tentang korban tewas dan hilang di Selandia Baru – Reuters dan AFP via The Guardian dan publikasi lain.
- Kronologi dan detail longsor di lokasi perkemahan dan rumah – laporan Anadolu dan media global lainnya.
- Data curah hujan ekstrim dan kondisi cuaca yang memperparah situasi di Pulau Utara.

