Oleh : Budhi Slamet
Hujan yang selalu mengguyur hampir dua minggu terakhir menjadikan sungai-sungai di sekitar perusahaan meluap. Konon katanya luapan airnya banyak membawa hanyut tanaman di kebun-kebun milik penduduk. Demonstrasi masyarakatpun tak bisa dihindari. Suasana kerusuhan ditambah kondisi ekonomi masyarakat yang serba kekurangan menjadikan moment banjir dijadikan pemicu. Masyarakat datang berdemo, memakai pakaian adat dengan beragam senjata tradisional dan senjata api rakitan di tangan. Mereka semua menuntut.
“Bud, sudah tahu kabar terakhir tentang tuntutan mereka?” Koko bertanya, saat kedua sahabat tersebut duduk satu meja di dapur perusahaan.
“Belum mas, gimana katanya?”
“Mereka mengancam, kalau dalam minggu ini tuntutan mereka tidak dikabulkan, komplek perusahaan kita akan diratakan dengan tanah!” suara Koko sedikit bergetar
Budi hanya bisa tertegun, baru saja dia menerima kabar ayahnya sakit keras di Bandung. Anaknya yang baru beberapa bulan dilahirkan juga sangat membutuhkan biaya. Istri dan anaknya sengaja dia tinggalkan di Bandung karena kondisi di Maluku yang belum menentu. Terbayang jika sampai perusahaan berhenti beroperasi atau sampai dibakar masa, mau mencari pekerjaan di mana lagi?. Tahun-tahun ini adalah tahun tersulit dalam sejarah negeri, kerusuhan terjadi hampir di setiap pelosok. Pengangguran di mana-mana, orang mengantri kebutuhan pokok sampai mengular menjadi sebuah pemandangan yang biasa.
“Bud, ini ada berita radio dari Manado!” tangan Iyan menyerahkan selembar berita radio yang baru saja selesai diketik oleh operator.
Budi menerima dan membacanya. Di sana tertera bahwa kesempatan pertama harus berangkat menuju Manado untuk menyelesaikan pembuatan dokumen Rencana Kerja Tahunan Perusahaan.
“Nanti kamu berangkat barengan Saya, Koko, keluarga Pak Salim dan Pak Manajer!”
“Setahuku Pak Manajer sih memang akan diganti, penggantinya kan besok akan datang, lantas kalau Koko dan Pak Salim dalam rangka apa?” selidik Budi
“Koko dan Pak Salim mengajukan cuti tahunan, kalau aku sih kebetulan ada perlu jadi sekalian ijin,” jawab Iyan sambil menyalakan rokok.
Barak perusahaan terasa hening. Orang masih banyak bertanya-tanya tentang kemampuan manajer baru yang akan menggantikan pak Bambang selaku manajer lama. Tuntutan dari masyarakat, kondisi cuaca yang selalu diguyur hujan, sulitnya suplay spare part dan BBM karena rute laut yang berbahaya akibat kerusuhan, menjadi masalah serius yang kini dihadapi perusahaan.
Di pagi buta itu terdengar suara mobil meraung di depan kantor. Manajer baru sudah tiba didampingi beberapa aparat keamanan. Konon beliau menyeberang ke Perusahaan menggunakan speed boat melewati jalur Fakfak Papua. Menjelang siang, di Aula kantor dilakukan serah terima jabatan singkat dari manajer lama ke manajer baru.
“Malam ini kita berangkat Bud! kita ikut tongkang yang memuat kayu Log menuju Falabisahaya, baru nanti dilanjutkan ke Manado,” kata Pak Bambang lirih
Budi hanya mengangguk, dia membayangkan bagaimana sulitnya perjalanan yang akan ditempuh nanti, apalagi istri Pak Bambang saat itu sedang hamil besar, empat hari empat malam akan terombang ambing di lautan.
Sarana transportasi laut bukannya tidak ada, tapi melewati wilayah yang sedang berkonflik sangatlah riskan. Waktu berlayar yang aman untuk transportasi umum hanya di siang hari, demi keamanan pelayaran waktu yang ditempuh menjadi sangat lama, karena harus berputar menghindari daerah konflik. Banyak berita tersebar adanya kapal yang dibakar di tengah laut dan penumpangnya tewas, konon mesinnya mogok sehingga terkatung-katung di daerah rawan atau mungkin saja sengaja diserang pihak yang bertikai.
Sore itu menjadi waktu yang sibuk buat mereka yang akan melaksanakan pelayaran. Mobil truk menurunkan mereka di bibir dermaga. Tongkang ternyata sudah sedikit menjauh dari bibir pantai, lampu tugboat penarik terlihat berkerlap kerlip tersaput kabut membuang jangkar agak di tengah.
“Air pasang, kita menyeberang naik ke tongkang menggunakan Tugboat kecil ini!” teriak Pak Manajer.
Semua berbaris satu-satu sambil memegang erat barang bawaan masing-masing, meniti tangga menaiki Tugboat kecil yang kesehariannya digunakan untuk menarik kayu dengan boomstick membantu pemuatan. Malampun semakin menjelang, kabut sudah mulai turun dan mengurangi jarak pandang, padahal Tugboat sudah menggunakan lampu sorot, tetapi tetap saja sulit menembus pekatnya kabut. Bu Bambang yang sedang hamil besar tampak sangat kesulitan ketika menaiki bibir Tugboat, begitupan istri Pak Salim yang repot menggendong anaknya yang masih balita. Tugboat mulai berjalan pelan ke tengah.
“Awas merunduk!!” tiba-tiba tumpukan gelondongan kayu muncul dari kegelapan, melintang menghalangi jalur Tugboat. Jarak ke Tongkang sudah begitu dekat, kabut telah menghalangi pandangan operator Tugboat.
“Cikar kanan!!” ABK tugboat berteriak
Tugboat berbelok ke arah kanan, tapi jarak sudah terlalu dekat.
“Pegangan semua!!” teriak orang-orang yang berdiri di haluan
“Brakk!” anjungan tugboat menghantam gelondongan kayu yang mencuat di belakang tongkang. Lampu sorot pecah, keadaan menjadi gelap gulita.
Beberapa orang segera menyalakan lampu senter, memeriksa kerusakan dan penumpang jangan sampai ada yang terjatuh akibat benturan tadi.
Setelah mereda dan semua sudah berada di atas tongkang ternyata ceritapun baru saja dimulai, empat malam ke depan harus mereka lalui mengarungi wilayah perairan konflik yang rawan, besarnya ombak Laut Maluku, cuaca ekstrem dan keterbatasan makanan serta air tawar menyempurnakan penderitaan mereka.
Ngamprah, 02 Februari 2026

