Harga kebutuhan pokok kembali jadi sorotan. Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat, harga cabai rawit merah menembus Rp64.150 per kilogram, sementara telur ayam ras bertahan di Rp31.450 per kilogram di tingkat pedagang eceran nasional.
Angka ini bikin banyak konsumen harus mikir dua kali saat belanja, terutama buat kebutuhan dapur harian. Cabai rawit merah yang jadi andalan sambal dan masakan pedas khas Nusantara, kembali naik dan jadi salah satu komoditas dengan lonjakan harga paling terasa.
Harga Pangan Bergerak Dinamis
Berdasarkan data resmi PIHPS, pergerakan harga cabai rawit merah memang cukup fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir. Faktor cuaca, distribusi, hingga pola tanam petani ikut memengaruhi naik-turunnya harga di pasar.
“Cabai itu komoditas yang sensitif. Begitu hujan deras atau panen terganggu, suplai langsung berkurang dan harga melonjak,” kata pengamat pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Arif Wibowo, saat dihubungi media.
Selain cabai rawit merah dan telur ayam, PIHPS juga mencatat harga beberapa komoditas lain masih bergerak stabil, seperti beras medium di kisaran Rp15.900 per kg, bawang merah Rp42.000 per kg, dan bawang putih Rp39.000 per kg.
Data lengkap bisa diakses langsung lewat laman resmi PIHPS di:
https://www.bi.go.id/id/statistik/harga-pangan/default.aspx
Di pasar tradisional, kenaikan harga cabai rawit merah langsung terasa. Siti (42), pedagang sayur di Pasar Anyar Bogor, bilang pembeli mulai mengurangi jumlah belanja.
“Biasanya beli setengah kilo, sekarang cuma minta seperempat. Katanya mahal, jadi irit,” ujarnya.
Fenomena ini bukan hal baru. Cabai rawit memang dikenal punya volatilitas tinggi. Saat kondisi cuaca normal dan panen melimpah, harga bisa turun drastis. Tapi begitu pasokan seret, harga langsung meroket.
Komentar serupa juga ramai di media sosial. Banyak warganet menyoroti betapa harga cabai sering bikin kaget. Beberapa menyebut cabai rawit sebagai “komoditas rasa emas” karena pergerakannya cepat dan tajam.
Di tengah kenaikan cabai, harga telur ayam ras masih relatif stabil di Rp31.450 per kg. Meski begitu, harga ini dinilai masih cukup tinggi bagi sebagian rumah tangga.
Menurut Ketua Umum Pinsar Petelur Nasional, Ferry Juliantono, stabilnya harga telur dipengaruhi oleh keseimbangan suplai dan permintaan.
“Produksi telur nasional sejauh ini masih aman. Distribusi juga lancar, jadi harganya nggak terlalu bergejolak,” ujarnya.
Telur ayam tetap jadi sumber protein favorit masyarakat karena mudah diolah, terjangkau, dan fleksibel untuk berbagai menu. Itulah kenapa stabilitas harga telur punya dampak besar terhadap daya beli masyarakat.
Pengamat ekonomi pertanian, Agus Purnomo, menjelaskan lonjakan harga cabai rawit merah tak lepas dari faktor cuaca ekstrem di sejumlah sentra produksi.
“Hujan intensitas tinggi bikin tanaman rentan busuk dan gagal panen. Akibatnya, pasokan ke pasar berkurang,” katanya.
Selain cuaca, distribusi juga memegang peranan penting. Jalur distribusi yang panjang, biaya transportasi, hingga permainan tengkulak bisa memengaruhi harga di tingkat konsumen.
Menurut Agus, solusi jangka panjangnya adalah memperkuat sistem distribusi, memperbanyak cold storage di daerah sentra, dan memperbaiki tata niaga agar petani dan konsumen sama-sama diuntungkan.
Kenaikan harga cabai rawit juga berdampak ke pelaku usaha kuliner. Warung makan, pedagang ayam geprek, hingga penjual seblak harus memutar otak supaya tetap untung.
Rizky, pemilik warung ayam geprek di Depok, mengaku terpaksa mengurangi porsi sambal.
“Kalau dipaksain, margin tipis banget. Jadi sambalnya dikontrol, biar harga jual nggak naik,” katanya.
Beberapa pelaku UMKM bahkan memilih menaikkan harga jual secara bertahap supaya tak kehilangan pelanggan.
Harga cabai rawit merah yang tembus Rp64.150/kg dan telur ayam Rp31.450/kg jadi sinyal penting bahwa stabilitas pangan masih perlu perhatian serius. Faktor cuaca, distribusi, dan tata niaga memegang peranan besar dalam menjaga harga tetap terkendali.
Masyarakat diharapkan tetap bijak berbelanja, sementara pemerintah dan pemangku kepentingan terus memperkuat sistem distribusi dan produksi agar gejolak harga bisa ditekan.
Dengan langkah yang tepat, diharapkan harga pangan bisa lebih stabil dan ramah di kantong, tanpa harus mengorbankan kesejahteraan petani dan pelaku usaha.

