Pergeseran ke kendaraan ramah lingkungan makin terasa di banyak kota besar. Mobil listrik, bus listrik, sampai sepeda listrik perlahan jadi pemandangan sehari-hari. Bukan cuma soal gaya hidup, tren ini ternyata membawa dampak nyata buat kualitas udara. Sejumlah studi terbaru menemukan, penggunaan kendaraan rendah emisi terbukti bikin udara lebih bersih dan kesehatan masyarakat ikut membaik.
Salah satu riset yang ramai dibahas datang dari tim peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dalam studinya, MIT menganalisis dampak adopsi kendaraan listrik di berbagai kota di Amerika Serikat. Hasilnya, peningkatan jumlah kendaraan listrik berbanding lurus dengan penurunan kadar polusi udara, terutama nitrogen dioksida (NO₂) dan partikel halus PM2.5 yang selama ini jadi biang masalah pernapasan. Penurunan ini bahkan terukur signifikan di wilayah perkotaan padat lalu lintas.
Penelitian lain dari University of Houston juga menunjukkan tren serupa. Mereka mencatat, wilayah yang lebih cepat mengadopsi kendaraan listrik mengalami perbaikan kualitas udara lebih cepat. Dampaknya, angka kunjungan rumah sakit akibat asma dan gangguan pernapasan menurun. Temuan ini memperkuat anggapan bahwa transisi ke transportasi bersih bukan sekadar isu lingkungan, tapi juga investasi kesehatan jangka panjang.
Di banyak kota dunia, efek kendaraan ramah lingkungan sudah mulai terasa. Amsterdam, misalnya, sejak beberapa tahun terakhir gencar menerapkan zona nol emisi. Pemerintah kota setempat melaporkan adanya penurunan kadar polutan udara di pusat kota setelah armada bus dan kendaraan logistik beralih ke listrik. Kebijakan ini juga dibarengi perluasan stasiun pengisian daya agar warga makin nyaman beralih.
Hal serupa terjadi di beberapa kota di Tiongkok. Berdasarkan laporan yang dirangkum media internasional, peningkatan jumlah mobil listrik di kota-kota besar seperti Shenzhen dan Beijing berdampak pada turunnya tingkat smog. Warga melaporkan jarak pandang lebih baik dan langit lebih cerah dibanding beberapa tahun lalu.
Di Indonesia, tren ini juga mulai bergerak. Data Kementerian Perhubungan mencatat, jumlah kendaraan listrik terus meningkat, didorong insentif pajak dan pengembangan infrastruktur pengisian daya. Meski kontribusinya terhadap total kendaraan masih kecil, arah perubahannya dinilai positif.
Pakar kesehatan lingkungan dari Universitas Indonesia, Prof. Budi Haryanto, menilai temuan ini sejalan dengan banyak studi sebelumnya. Menurutnya, polusi udara dari kendaraan berbahan bakar fosil punya dampak langsung ke kesehatan masyarakat.
“Kalau emisi kendaraan turun, kualitas udara otomatis naik. Ini efek dominonya besar, mulai dari menurunnya risiko asma, penyakit jantung, sampai kematian dini,” ujarnya saat dihubungi, Senin (3/2).
Ia menambahkan, peralihan ke kendaraan ramah lingkungan perlu dibarengi kebijakan transportasi publik yang kuat. “Bus listrik, MRT, LRT, itu kuncinya. Kalau cuma mobil pribadi yang diganti listrik, dampaknya tetap terbatas,” katanya.
Pendapat senada datang dari Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa. Ia menyebut, transisi kendaraan listrik harus dibarengi peralihan energi bersih di sektor pembangkit.
“Kalau listriknya masih dominan batu bara, manfaatnya memang belum maksimal. Tapi tetap lebih baik karena emisi di kota bisa ditekan, sementara pembangkit bisa dikontrol terpusat,” jelas Fabby.
Perubahan kualitas udara juga dirasakan langsung oleh warga. Rina (32), pekerja swasta di Jakarta Selatan, mengaku beberapa bulan terakhir merasa udara pagi hari lebih segar, terutama di kawasan yang dilalui bus listrik Transjakarta.
“Dulu pas jam berangkat kerja, asap knalpot bikin sesak. Sekarang lumayan beda, nggak terlalu menyengat,” katanya.
Hal serupa dirasakan Dedi (45), pengemudi ojek online. Menurutnya, kehadiran motor listrik mulai mengurangi kebisingan dan bau asap di jalan. “Kalau makin banyak yang pakai listrik, jalanan pasti lebih nyaman,” ujarnya.
Meski manfaatnya jelas, adopsi kendaraan ramah lingkungan masih menghadapi tantangan. Harga kendaraan listrik yang relatif mahal, keterbatasan stasiun pengisian, hingga kekhawatiran soal jarak tempuh masih jadi ganjalan.
Namun, tren global menunjukkan harga baterai terus turun dan teknologi makin matang. Laporan BloombergNEF menyebut, biaya produksi baterai lithium-ion turun lebih dari 80 persen dalam satu dekade terakhir. Ini membuka peluang kendaraan listrik makin terjangkau di masa depan.
Pemerintah Indonesia juga menargetkan percepatan ekosistem kendaraan listrik lewat insentif pajak, subsidi, dan pembangunan SPKLU di berbagai kota. Langkah ini diharapkan mempercepat adopsi sekaligus menekan emisi sektor transportasi yang selama ini jadi salah satu penyumbang polusi terbesar.
Studi-studi terbaru memberi gambaran optimistis: peralihan ke kendaraan ramah lingkungan bukan sekadar wacana. Dampaknya nyata dan terukur. Kota-kota yang serius beralih ke transportasi bersih mulai merasakan udara lebih sehat dan kualitas hidup yang meningkat.
Kalau tren ini terus dijaga, bukan mustahil beberapa tahun ke depan, langit biru dan udara segar jadi pemandangan biasa di kota-kota besar Indonesia. Kuncinya ada di kolaborasi semua pihak: pemerintah, industri, dan masyarakat.
Sumber:

