Jakarta – Cuaca ekstrem kembali jadi sorotan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini terkait potensi angin kencang, hujan lebat, dan badai guntur yang diprediksi melanda perairan DKI Jakarta hingga Jawa Barat hari ini, Selasa (3/2/2026). Kondisi ini dinilai berisiko tinggi, khususnya bagi nelayan, pelaku pelayaran, dan warga pesisir.
Melalui Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok, BMKG menyebut peningkatan kecepatan angin bisa mencapai 20 knot atau sekitar 37 km per jam. Situasi ini berpotensi memicu gelombang tinggi serta cuaca laut yang tak bersahabat di sejumlah titik perairan, termasuk Indramayu, Cirebon, Kepulauan Seribu, hingga pesisir utara Jawa Barat.
Prakirawan BMKG menjelaskan, dinamika atmosfer yang aktif membuat awan-awan konvektif tumbuh dengan cepat. Awan jenis ini dikenal sebagai pemicu utama hujan lebat disertai kilat, petir, dan badai guntur.
“Pola angin yang cukup kuat di lapisan bawah atmosfer bikin potensi badai makin besar. Kondisi laut bisa berubah cepat, dari relatif tenang jadi berbahaya dalam hitungan jam,” tulis BMKG dalam keterangannya.
Wilayah perairan yang masuk zona rawan meliputi Perairan DKI Jakarta, Perairan Subang, Indramayu, Cirebon, hingga sebagian pesisir utara Jawa Barat. Para nelayan diminta ekstra waspada, terutama yang menggunakan perahu kecil dan kapal berukuran ringan.
Ketua Himpunan Nelayan Tradisional Indramayu, Rohman, menyebut sebagian nelayan memilih menunda melaut setelah mendapat info peringatan cuaca dari BMKG.
“Kalau angin sudah kencang dan ombak tinggi, risikonya besar. Keselamatan jauh lebih penting. Banyak nelayan akhirnya pilih memperbaiki jaring atau kapal dulu sambil nunggu cuaca membaik,” katanya saat dihubungi.
Hal senada diungkapkan Andi Prasetyo, pengamat kelautan dari komunitas Maritim Watch Indonesia. Menurutnya, kombinasi angin kencang dan badai guntur bisa memicu arus laut yang tak stabil.
“Ini kondisi yang cukup berbahaya, apalagi buat kapal kecil. Selain ombak tinggi, petir di laut juga jadi ancaman serius,” jelas Andi.
Cuaca ekstrem ini juga berpotensi mengganggu aktivitas penyeberangan dan wisata laut, khususnya di kawasan Kepulauan Seribu dan pesisir Banten–Jawa Barat.
Beberapa operator kapal wisata mengaku sudah menerima peringatan untuk menyesuaikan jadwal keberangkatan. Jika kondisi memburuk, tak menutup kemungkinan pelayaran ditunda demi keamanan penumpang.
“Kami selalu ikuti update BMKG. Kalau angin makin kencang, trip wisata pasti kami tunda,” ujar Fajar Nugraha, pengelola kapal wisata di Marina Ancol.
Selain nelayan dan pelaku pelayaran, warga yang tinggal di kawasan pesisir juga diminta tetap waspada. Angin kencang bisa memicu gelombang pasang, sementara hujan lebat berpotensi menimbulkan genangan hingga banjir rob di beberapa titik.
BPBD DKI Jakarta menyatakan sudah menyiagakan tim reaksi cepat untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem. Posko pemantauan di wilayah pesisir juga diaktifkan guna memantau perkembangan kondisi laut.
“Kami koordinasi dengan BMKG dan aparat setempat. Jika ada potensi bahaya, informasi akan segera disebarkan ke warga,” kata salah satu petugas BPBD.
Menurut analisis BMKG, kondisi ini dipicu oleh pertemuan massa udara basah dari Samudra Hindia dan daratan Asia, yang membentuk awan hujan aktif. Ditambah suhu permukaan laut yang hangat, proses pembentukan awan badai jadi makin intens.
Fenomena ini cukup lazim terjadi pada masa peralihan musim dan puncak musim hujan. Meski begitu, intensitasnya bisa bervariasi dan sulit diprediksi secara detail, sehingga kewaspadaan tetap jadi kunci.
Update Cuaca Bisa Berubah Cepat
BMKG menegaskan, kondisi atmosfer bisa berubah sangat cepat. Masyarakat diimbau rutin memantau pembaruan informasi cuaca agar bisa mengambil langkah antisipasi lebih dini.
“Keselamatan harus jadi prioritas utama. Jangan paksakan aktivitas di laut saat kondisi cuaca tidak mendukung,” tulis BMKG dalam imbauannya.
Dengan potensi angin kencang dan badai guntur yang masih cukup tinggi, warga pesisir Jakarta hingga Jawa Barat diharapkan tetap siaga. Langkah kecil seperti mengecek prakiraan cuaca dan menunda aktivitas berisiko bisa jadi penentu keselamatan.
Sumber:
- BMKG – Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok
- Radar Bogor

