Ancaman Serius bagi Pesut Mahakam, Dua Perusahaan di Kalimantan Timur Dihentikan KLH

Pesut Mahakam, mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur, kini masuk daftar satwa paling terancam punah di Indonesia. Populasinya diperkirakan tinggal sekitar 60 ekor. Setiap gangguan di habitatnya bisa berdampak besar, bahkan memicu kepunahan. Karena itu, tindakan cepat dari pemerintah jadi harapan besar bagi pegiat lingkungan dan masyarakat lokal.

Aktivitas Industri Dinilai Membahayakan

KLH melalui tim penegakan hukum lingkungan melakukan pengawasan intensif di wilayah Sungai Mahakam setelah menerima laporan dari Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI). Dari hasil pengawasan, ditemukan aktivitas pemindahan batu bara di sungai yang tidak dilengkapi izin lingkungan serta melanggar standar baku mutu air.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa semua kegiatan usaha di kawasan Sungai Mahakam wajib mematuhi aturan lingkungan. Tidak ada toleransi untuk aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem, apalagi di wilayah habitat pesut.

“Setiap kegiatan di Sungai Mahakam harus taat izin dan menjaga kualitas air. Kalau melanggar, siap-siap ditindak,” ujar Hanif dalam pernyataan resminya.

Dalam operasi lapangan, tim KLH menemukan praktik ship to ship transfer batu bara tanpa kelengkapan dokumen lingkungan. Aktivitas ini berisiko meningkatkan kekeruhan air, polusi, serta potensi tabrakan tongkang yang mengancam keselamatan pesut.

Berdasarkan hasil pengawasan, KLH menghentikan sementara operasional dua perusahaan yang dinilai paling berisiko terhadap kelestarian Pesut Mahakam. Selain itu, satu perusahaan lain juga masuk daftar pengawasan ketat.

Deputi Penegakan Hukum Lingkungan, Rizal Irawan, menyebut langkah ini sebagai upaya serius menyelamatkan spesies langka. Menurutnya, ancaman terhadap pesut bukan cuma dari pencemaran, tapi juga dari lalu lintas kapal dan tongkang yang makin padat.

“Kalau dibiarkan, risiko tabrakan, stres akustik, dan penurunan kualitas air bakal makin parah. Ini bahaya nyata buat pesut,” kata Rizal.

KLH juga melakukan uji kualitas air di beberapa titik. Hasilnya, sejumlah parameter melebihi ambang batas, termasuk kandungan sulfida dan klorin bebas. Temuan ini memperkuat alasan penghentian aktivitas industri di kawasan tersebut.

Langkah KLH mendapat dukungan dari pegiat lingkungan. Direktur RASI, dalam keterangannya, menilai keputusan ini sebagai langkah penting, meski belum cukup.

“Penghentian operasional itu krusial, tapi pemulihan habitat juga harus jalan. Pesut butuh lingkungan yang benar-benar aman,” ujarnya.

Sementara itu, warga di sepanjang Sungai Mahakam mengaku sering melihat pesut mendekat ke permukaan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kemunculannya makin jarang. Banyak nelayan yang mengaitkan hal ini dengan meningkatnya aktivitas tongkang batu bara.

“Dulu sering lihat pesut muncul. Sekarang jarang banget. Sungai makin ramai, air juga keruh,” kata Rahman, nelayan di Kutai Kartanegara.

Ancaman Kepunahan Nyata

Pesut Mahakam termasuk dalam kategori critically endangered atau kritis. Ancaman utama datang dari degradasi habitat, pencemaran, tabrakan kapal, serta jerat jaring nelayan. Setiap tahun, laporan kematian pesut terus bertambah.

Menurut data RASI, dalam satu dekade terakhir, puluhan pesut ditemukan mati dengan berbagai penyebab. Kondisi ini jadi alarm keras bahwa tanpa langkah luar biasa, spesies ini bisa lenyap dari Sungai Mahakam.

KLH menegaskan akan memperketat pengawasan, bukan hanya pada sektor pertambangan, tapi juga perkebunan dan aktivitas industri lain di sepanjang sungai. Penertiban izin, pengawasan kualitas air, hingga pembatasan lalu lintas tongkang jadi opsi yang tengah dikaji.

Komentar Pengamat: Jangan Setengah-Setengah

Pengamat lingkungan dari Universitas Mulawarman, Dr. Andi Suryawan, menilai penghentian dua perusahaan sebagai langkah positif. Namun, ia mengingatkan agar kebijakan ini tidak berhenti sebagai aksi simbolik.

“Harus ada audit menyeluruh, penegakan hukum konsisten, dan pemulihan ekosistem. Kalau cuma stop sementara tanpa perbaikan, dampaknya minim,” tegasnya.

Ia juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam pemantauan sungai. Dengan begitu, potensi pelanggaran bisa cepat terdeteksi.

Harapan Baru untuk Pesut Mahakam

Penghentian operasional dua perusahaan ini membuka harapan baru bagi kelestarian Pesut Mahakam. Meski tantangan masih besar, langkah tegas pemerintah jadi sinyal kuat bahwa perlindungan satwa langka tak bisa ditawar.

KLH memastikan akan melanjutkan pengawasan dan penindakan di Sungai Mahakam. Targetnya jelas: menekan aktivitas berisiko, memulihkan kualitas air, dan memberi ruang aman bagi pesut untuk bertahan hidup.

Jika upaya ini konsisten, bukan tak mungkin populasi Pesut Mahakam perlahan pulih. Sungai Mahakam pun bisa kembali jadi rumah aman bagi mamalia ikonik Kalimantan Timur itu.

Sumber :

ANTARA News – KLH tindaklanjuti kematian Pesut Mahakam, awasi tiga perusahaan

Radar Bogor

Tiga Unit MCK untuk Batu Sumbang dan Pantai Kera

Pelajar Bogor Bisa Ikut Simulasi TKA SD & SMP 2026 Gratis, Ini Jadwal, Cara Akses, dan Panduan CBT Lengkapnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *