Pengalaman Tak Terlupakan Dengan “NOMAD”

Oleh : Budhi Slamet. S

Suatu hari saya membaca sebuah artikel di media masa tentang diresmikannya Monumen Pesawat Nomad N-22B yang menghiasi Bundaran Flyover Aloha Sidoarjo. Bagi saya sebagai seorang warga sipil biasa, ada kenangan tersendiri dengan pesawat ini.  Masih terbayang dalam ingatan kejadian beberapa puluh tahun silam, ketika untuk pertama kalinya dapat merasakan bagaimana ketangguhan pesawat Nomad TNI AL ini, serta keberanian para crew yang mengawakinya, bahkan boleh dikata nekad dengan mendaratkan pesawatnya di atas landasan perintis yang hanya terbuat dari batu karang yang telah diratakan di Pulau terpencil nun jauh di sana “Mangole”.

Tidak ada maksud penulis untuk menyudutkan atau mengecilkan arti segenap usaha daripada Bapak-bapak Prajurit  Penerbal TNI AL di sana, semua penulis ceritakan berdasarkan pengalaman nyata penulis sebagai kenangan untuk dijadikan cerita bagi anak cucu penulis kelak.

Manado, pertengahan tahun 2003

Waktu itu saya bekerja sebagai karyawan pada sebuah perusahaan kayu besar di Negeri ini, sebuah perusahaan raksasa milik seorang konglomerat ternama di mana unit-unit perusahaannya tersebar mulai dari wilayah Barat sampai nun jauh ke wilayah Timur Indonesia. Sebagai seorang tenaga teknis di bidang kehutanan saya dipercayakan mengelola administrasi pendokumenan kayu bulat di sebuah Camp Logging di pedalaman Pulau Mangole Maluku Utara. Masih terekam dengan baik, saat itu saya baru saja pulang melaksanakan cuti tahunan sekalian mengantar istri dan anak mudik ke Bandung. Tetapi karena satu dan lain hal ketika kembali saya hanya seorang diri, istri dan anak masih harus ditinggal di Bandung. Kembali ke Manado di mana kantor pusat berada, saya menggunakan pesawat Airlines dari Bandara Soekarno Hatta. Setibanya di Manado oleh bagian Personalia ditempatkan di Mess Transit sambil menunggu informasi kapal laut yang akan berlayar ke Mangole. Pengalaman selama ini saya selalu menggunakan jalur Laut  menggunakan kapal perintis ke Pulau Mangole. Paling sering lewat pelabuhan Bitung, pernah juga lewat pelabuhan Manado menggunakan kapal suplai logistik milik perusahaan. Untuk perjalanan menggunakan pesawat terbang belum pernah sama sekali.

Terdengar kabar akan ada kiriman gaji bulanan karyawan beserta dokumen dengan menggunakan pesawat. Perusahaan kami biasa mencarter pesawat dari maskapai penerbangan, tetapi menurut beberapa rekan dari personalia, Penerbal menawarkan carteran dengan harga yang cukup miring dibanding perusahaan penerbangan.  Saya sempat berpikir, mungkin ini semua terjadi karena anggaran TNI sangat minim, sehingga untuk menambah kesejahteraan, para prajuritnya banyak yang “ngompreng” untuk cari uang rokok. Sayapun teringat pula cerita seorang rekan yang akan pulang cuti ke Jawa dari Bandara Sam Ratulangi dengan naik Herculles TNI AU, konon ongkosnya bisa setengah harga Airlines biasa, cuma mesti bawa nasi bungkus, maklum di Herculles kan tidak disediakan makan, apalagi pelayanan pramugari cantik.

Benar saja, malam itu saya diberitahu pihak personalia untuk mempersiapkan diri, sayapun segera tidur lebih awal. Sekitar jam 5.00 WITA mobil jemputan sudah mengantarkan kami menuju area Pangkalan Udara TNI AL Manado. Lokasi pangkalan udara merupakan enclave dari Bandara Samratulangi, posisinya cukup terpencil dan berhadapan langsung dengan Terminal Bandara. Kendaraan jemputan dari perusahaan masuk melewati pintu tersendiri dengan penjagaan yang ketat sampai akhirnya kami semua tiba di Shelter pesawat. Di situ saya bisa melihat satu unit pesawat Nomad  dengan cat loreng sedang dalam pengecekan akhir, di sudut sebelah kanan agak jauh dari shelter saya lihat pula ada pesawat ringan teronggok tak terurus, sepertinya pesawat sipil karena tidak ada tanda milik TNI.

Saya bukanlah pengamat penerbangan, tetapi saya sering kali membaca majalah Angkasa sejak di bangku SMA, bahkan sampai kerja saat itu pun masih sering membacanya. Seorang Bintara AL mempersilahkan kami untuk berbaris satu-satu, nama kami dicocokan dengan daftar yang diberikan dari kantor. Teman seperjalanan saya hanya 3 orang saat itu, satu orang teman dari bagian Repair & Maintenance (RM) dan 2 orang lagi dari Bagian Industri kemungkinan staf keuangan. Berat badan dan tas bawaan kami ditimbang dengan timbangan badan dan dihitung manual dengan kalkulator. Sungguh berbeda sekali dibanding bila kita akan terbang menggunakan pesawat Airlines. Saya dapat memaklumi mengingat Nomad sejatinya adalah pesawat intai maritim, walaupun memiliki kemampuan angkut tetapi hanya dalam jumlah terbatas sehingga crew pesawat melakukan penghitungan ulang muatan agar tidak terjadi over load.

Kami dipersilahkan memasuki kabin pesawat, saat melewati roda pendarat sebelah kanan saya lihat tutup roda pendaratnya sepertinya banyak baret bekas goresan, membuat jantung sedikit dag dig dug. Konon pesawat buatan Government Aircraft Factory (GAF) Australia ini mempunyai cacat rancang sejak lahir sehingga banyak dilego ke Indonesia dan negara jiran lainnya, malahan di negara asalnya sejak tahun 1995 pesawat ini sudah digrounded alias tidak diijinkan terbang lagi. Dua orang mekanik pesawat menutup kembali tutup mesin yang sedari tadi terbuka kemudian mengecek baling-baling serta berjalan mengelilingi pesawat. Mereka berbicara kepada temannya dalam bahasa Jawa sambil senyum-senyum yang terdengar sangat pelan sehingga kurang dapat saya pahami, kemudian keduanya bergerak menjauh. Saya percaya bahwa semua ritual rutin yang mereka lakukan sudah lengkap sehingga tidak perlu ada perasaan was-was lagi.

Semua penumpang duduk di bangku yang saling berjauhan, sengaja saya duduk di belakang kokpit yang bersebelahan dengan navigator supaya dapat melihat setiap kegiatan pilot dan kopilotnya. Baru kali ini saya duduk begitu dekat dengan Kokpit sehingga dapat mengamati apa yang dilakukan mereka. Saya menghitung di dalam kabin terdapat sekitar 9 sampai 10 kursi penumpang ditambah 2 kursi di kokpit, hitungan saya sudah termasuk kursi yang sengaja dilepas untuk dijadikan tempat menyimpan barang muatan perusahaan. Kursi duduknya tidak begitu nyaman, sepertinya hanya kursi besi biasa dengan busa yang dibalut kain jok berwarna coklat terang maklum pesawat ini adalah versi militer jadi kenyamanan mungkin dinomor duakan.

Mesin pesawatpun mulai dihidupkan, tidak ada instruksi untuk menggunakan safety belt  layaknya pesawat komersial, semua penumpang dianggap sudah tahu dan maklum. Pesawatpun mulai menggelinding ke Run way, dua mesin turboprop Allison 250 meraung membuat badan pesawat terasa bergetar halus. Kembali hati saya sedikit menjadi ciut begitu teringat bahwa Nomad sering dijuluki “The Widow Maker” alias si pencetak janda, dikarenakan banyaknya kasus kecelakaan yang menimpa pesawat ini. Belum lagi hubungan diplomatik RI dan Australia sedang hangat-hangatnya gara-gara kasus Timtim. Bukan mustahil spare part pesawat ini tidak pernah lagi dikirim dari Pabriknya dengan alasan politik, pikir saya berkecamuk dalam hati. Dalam salah satu edisi majalah Angkasa yang pernah saya baca, TNI AL menerima dua type Nomad masing-masing N22 dan N24 dan difungsikan sebagai pesawat intai maritim dan konon ada juga yang dijadikan angkutan VIP, katanya TNI AL memiliki hampir dua lusin pesawat ini walaupun hanya sebagaian saja yang serviceable.

Pesawatpun mulai melaju dengan full power menggenjot kedua mesin turbopropnya di atas landasan pacu Bandara Samratulangi yang mulus. Take off  dengan sempurna menuju angkasa, kamipun mengudara tanpa hambatan, pesawat terbang rendah melintas di atas Teluk Manado kemudian berbelok sambil menambah ketinggian dan heading ke Selatan menuju Mangole. Sungguh indah sekali pemandangan dari atas pesawat di pagi hari yang cerah itu. Langit begitu jernih, pohon kelapa dan pasir putih yang terbentang memanjang sepanjang pantai memanjakan mata kami. Sebagian besar rute penerbangan kami adalah melintasi lautan luas, dari jendela kabin saya melihat perahu dan  kapal-kapal  laut tampak begitu jelas terlihat. Hal yang berbeda didapati bila naik pesawat Airlines yang umumnya terbang sangat tinggi.

Di udara mesin pesawat terdengar begitu halus, hanya sesekali terasa sedikit getaran di kursi yang kami duduki, saya lihat ke depan tampak Pilot berdialog dengan Kopilot dan sesekali membuka peta sambil mencocokan dengan GPS yang terdapat di panel kokpit.  Tidak terasa waktupun berlalu begitu cepat, disini di angkasa segala kekhawatiran akan ferforma  pesawat ini hilang sirna,  entah perasaan saya atau karena melihat wajah-wajah tenang para awak pesawat yang begitu profesional membuat hati saya begitu nyaman. Di depan kami mulai nampak terlihat noktah biru kehijauan yang semakin lama semakin jelas berupa pulau. Pesawatpun mulai terbang merendah untuk approach persiapan mendarat. Pulau Mangole bukanlah Pulau besar, bila cuaca laut mendukung mungkin hanya dalam waktu satu setengah hari perjalanan laut, kita dapat mengitari pulau ini dengan speed boat.

Landasan  terletak di bibir pantai kota Falabisahaya yang merupakan kota terbesar di pulau itu. Landasan terbuat dari batu karang yang diratakan dengan bulldozer, di sana sini ditumbuhi rumput liar. Kota Falabisahaya menjadi ramai karena perusahaan kami membangun industri pengolahan kayu terpadu di sini. Pelabuhan yang cukup besar dan dalam sehingga kapal-kapal besarpun dapat sandar langsung ke dermaga untuk loading  hasil olahan kayu berupa moulding dan kayu lapis. Dulu mantan Presiden Soeharto (Alm) meresmikan sendiri beroperasinya pabrik pengolahan kayu ini dan beliau sempat menginap satu malam untuk menikmati keindahan laut dan memencing ikan. Tetapi tahun 1997 terjadi gempa bumi yang hebat dan membuat infrastruktur di pulau ini banyak yang mengalami kerusakan parah termasuk pabrik milik perusahaan kami.

Pesawat Nomad kamipun mulai mengambil ancang-ancang mendarat, berputar satu kali di atas landasan dan mulai melakukan pendaratan.  Roda pesawat menyentuh landasan batu karang, terasa ada benturan yang cukup keras membuat pesawat  melonjak beberapa kali, saya lihat sayap pesawat tampak bergoyang ke kiri dan ke kanan. Pesawat terus meluncur dan semakin lama semakin perlahan, tanpa menghentikan mesin, pesawat berputar mendekati terminal bandara dan pintu pesawatpun dibuka, pak navigator meminta kami segera turun, Alhamdullilah, akhirnya kami sampai dengan selamat di Mangole, waktu perjalanan kuhitung sekitar 45 menitan. Terminal bandara dibuat begitu sederhana layaknya Shelter Bus Kota, di luar beberapa karyawan dengan sigap membongkar muatan pesawat dan mengisi kembali dengan muatan baru untuk dibawa ke Manado. Selesai loading muatan yang sangat “kilat” itu, pintu pesawatpun kembali ditutup dan pesawat mulai berputar menuju ujung landasan dan kembali terbang mengudara meninggalkan kami yang baru saja menghirup udara Mangole.

Ada keprihatinan dan keharuan, juga ada kepuasan sekaligus kebanggaan merasakan perngalaman pertama terbang dengan Nomad  ini.  Banyak pertanyaan muncul di benak saya waktu itu, entah sampai kapan negara dengan garis pantai terpanjang di dunia ini dapat  memiliki armada pesawat patroli maritim yang canggih dan memadai serta sanggup mengawasi dan melindungi ribuan pulau di mana begitu banyak kekayaan maritim yang harus tetap terjaga.

Bandung Barat, 09 Februari 2026

Sumber Foto : https://kilasjatim.com/2025/08/12/monumen-nomad-n-22b-diresmikan-simbol-kejayaan-penerbangan-tni-al

More From Author

Kenali Jenis Talenan yang Bagus untuk Memasak Sehari-hari di Dapur

ARM HA-IPB Renovasi 3 Rumah Ibadah di Simpang Jernih, Aceh Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *