Banjir di Sentul Bogor Diduga Akibat Alih Fungsi Lahan yang Tak Terkendali

Kawasan Sentul, Bogor, belakangan ini jadi pusat perhatian setelah dihantam banjir bandang yang cukup parah pada pertengahan Februari 2026. Hujan deras yang mengguyur wilayah Babakan Madang dan sekitarnya membuat debit air sungai meluap sampai masuk ke permukiman warga dan ruas jalan utama. Kejadian ini memicu diskusi panas di kalangan masyarakat soal siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas bencana yang makin sering muncul ini.

Pembangunan Masif, Resapan Air Menipis

Banyak pihak yang menduga kalau biang kerok utama banjir kali ini adalah alih fungsi lahan yang sudah tidak terkendali. Lahan yang dulunya merupakan daerah resapan air, kebun, dan hutan kecil kini berubah wujud jadi kompleks perumahan mewah dan area komersial.

Menurut pantauan di lapangan, wilayah seperti Desa Cijayanti dan Desa Bojong Koneng kena dampak paling parah. Warga bercerita kalau dulu kawasan tersebut bentuknya seperti “mangkok” alami yang bisa menampung air hujan. Tapi sekarang, dengan banyaknya bukit yang dikeruk dan pohon yang ditebang untuk proyek bangunan, air hujan nggak punya tempat parkir lagi dan langsung terjun bebas ke rumah-rumah warga.

Kritik pedas mengalir deras di media sosial maupun secara langsung dari warga terdampak. Solihin, salah satu warga Cijayanti, menyebutkan kalau pembangunan perumahan di sekitar Sentul City bikin daerahnya jadi langganan banjir.

“Dulu di sini sawah sama kebun, sekarang bangunan semua. Pas hujan gede, air dari perumahan ketemu air sungai langsung masuk ke rumah kita yang di bawah,” tuturnya dengan nada kecewa.

Tidak cuma warga, para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga angkat bicara. Prof Hendra Gunawan, seorang peneliti ahli utama di BRIN, menegaskan kalau kejadian ini adalah alarm ekologis. Menurut beliau, banjir bandang di Sentul bukan cuma karena hujan ekstrem, tapi tanda kalau ekosistem hutan penyangga di wilayah tersebut sudah mengalami keruntuhan fungsi (ecosystem collapse).

“Hujan lebat itu fenomena alam yang wajar di daerah tropis. Tapi kalau ekosistem hutan hilang kemampuannya buat nahan air dan menstabilkan tanah, ya jadinya bencana,” jelas Prof Hendra. Beliau juga menyoroti lima proses kerusakan hutan yang terjadi secara bertahap, mulai dari fragmentasi lahan sampai penyusutan area hijau yang masif.

Langkah Tegas Pemerintah Kabupaten Bogor

Merespons tekanan publik dan kondisi lapangan yang makin kritis, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor nggak tinggal diam. Plt Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang, Eko Mujiarto, menyatakan kalau pihaknya telah mengambil langkah berani dengan menghentikan sementara proyek perumahan di area terdampak.

Beberapa poin penting dari keputusan Pemkab Bogor:

  • Evaluasi Perizinan: Semua izin pembangunan akan dicek ulang, apakah sudah sesuai dengan AMDAL dan tata ruang yang berlaku.
  • Kajian Kekuatan Lahan: Tim teknis bakal meneliti apakah lahan tersebut sebenarnya layak buat dibangun atau nggak. Kalau hasilnya membahayakan lingkungan, proyek bisa distop permanen.
  • Audit Drainase: Banyak pengembang diduga “kecolongan” karena belum membangun sistem drainase yang mumpuni tapi sudah tancap gas membangun unit rumah.

Manajemen Sentul City sendiri mengaku kooperatif dengan langkah Pemkab Bogor. Mereka mengklaim kalau isu lingkungan selalu jadi prioritas dan tim teknis sedang melakukan investigasi mendalam untuk merumuskan mitigasi jangka panjang, seperti pembersihan sisa lumpur dan perbaikan saluran air yang tersumbat material proyek.

Namun, masyarakat tetap menuntut bukti nyata. Alih fungsi lahan yang terlalu agresif dianggap telah merampas hak warga lokal atas keamanan dari bencana. Ke depannya, pembangunan yang berkelanjutan bukan lagi cuma pilihan, tapi kewajiban kalau nggak mau Sentul terus-terusan jadi “kolam” setiap kali hujan turun.

Sumber:

Peran Akar Tanaman Teh dalam Mencegah Erosi Tanah di Lahan Miring

Panduan Cara Install Windows 11 dari Awal Sampai Berhasil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *