Di susun oleh: Sri Hesti Damayanti
Seorang ulama baik itu pejuang maupun pendakwah ulung pasti latar belakang pendidikannya yaitu pesantren, tidak beda halnya dengan KH. Sholeh Iskandar yang dari kecil lebih berminat terhadap ilmu agama. Meskipun terlahir dari keluarga biasa namun kedua orang tuanya mendukung keinginannya untuk menempuh pendidikan pesantren dengan lebih mendalami ilmu agama yang menjadi ketertarikannya, karena pendidikan agama merupakan pendidikan yang paling penting yang harus ditanamkan sejak dini.
Pendidikan Pesantren Sejak Dini
KH. Sholeh Iskandar dari kecil menuntut ilmu di berbagai pesantren, baik di daerah sekitar rumahnya maupun di wilayah lain, adapun pendidikan formalnya hanya sampai kelas 3 Sekolah Rakyat tepatnya Sekolah Rakyat Warung Saptu, Cibungbulang. Sekolah Rakyat Warung Saptu pada saat itu merupakan Sekolah Rakyat yang berada di wilayah Kecamatan Cibungbulang. Selebihnya pendidikan KH. Sholeh Iskandar hanya dari pesantren ke pesantren, dan tidak pernah mengikuti pendidikan formal lainnya. Awalnya di tahun 1934-1936 pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Cangkudu, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang di bawah pimpinan KH. Syukur. KH. Sholeh Iskandar kenapa bisa belajar hingga ke Cangkudu karena mengikuti gurunya KH. Siddiq dari Bakom Ciawi, ia mengenyam pendidikan di sini hanya sekitar dua bulan karena mengikuti KH. Shiddiq pergi belajar ke Cangkudu.
Namun diketahui bahwa ia terakhir lama belajar menjadi santri di Sukabumi tepatnya di Pondok Pesantren Cantayan dan menjadi murid KH. Ahmad Sanusi. Sebelum belajar ke Cantayan KH. Sholeh Iskandar di tahun 1937-1940 ia belajar di Cantayan dengan di bawah bimbingan KH. Ahmad Sanusi, KH. Nachrowi, dan H. Damanhuri. Memang sebagai seorang ulama ia banyak menghabiskan waktunya kepada masyarakat, salah seorang yang lebih sering bertindak daripada hanya mencetuskan ide saja. Meskipun riwayat pendidikan formalnya hanya sampai kelas 3 Sekolah Rakyat, karena waktu masa mudanya ia banyak habiskan di medan perang mengangkat senjata melawan para penjajah, berbeda dengan para ulama biasanya yang menuangkan keilmuannya dengan sebuah pena. KH. Sholeh Iskandar lebih senang bertindak secara fisik membangun sarana dan prasana khususnya untuk kalangan umat Islam di Bogor.
Sumber: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM DI BOGOR (1968-1992)
