Di susun oleh: Sri Hesti Damayanti
KH. Sholeh Iskandar yang pada saat itu merupakan komandan laskar, lalu merorganisasi diri menjadi Batalyon I, Resimen Singadaru Biro Perjuangan Daerah XXXV (35) Banten, dimana dalam bidang persenjataan sudah lebih dari
yang dipersyaratkan untuk membentuk suatu Batalyon, saat itu persenjataan yang dimiliki adalah 1:2, artinya setiap dua orang pasukan mempunyai satu senjata. Sementara syarat pembentukan satu Batalyon TNI adalah memiliki senjata 1:5. Dengan begitu, kemudian mematuhi Dekrit Presiden 20 Mei 1947 untuk menggabungkan laskarnya ke dalam tubuh Tentara Negara Indonesia, laskar ini digabung dengan formasi utuh Batalyon I Singadaru, dan ditambah satu perwira penghubung yaitu Letnan I Hasan Slamet. Kemudian satuan ini dinamai Batalyon VI Brigade Tirtyasa, Divisi Siliwangi.
Persenjataan yang dimiliki Batalyon di bawah pimpinan KH. Sholeh Iskandar sangat mencukupi, hal itu bisa didapat dengan cara yang tidak mudah. Pertama para pejuang membeli senjata bekas tentara Jepang yang telah dirusak dibakar, dilindas mesin giling dan dibuang di danau (danau Lido Sukabumi, tempat pembuangan senjata Jepang). Kedua bekerja sama dengan tokoh masyarakat yang berunding dengan tentara Jepang untuk menyerahkan persenjataan beserta pelurunya untuk diserahkan kepada Indonesia. Ketiga, mencuri senjata pasukan Inggris (termasuk Inggris – India) serta senjata pasukan Jepang. Senjata yang saat itu banyak beredar adalah Lee Enfeeld buatan Inggris serta buatan Jepang yaitu Garand, Mauser, Arisaka. Dalam masa perjuangan menghadapi Belanda, tepatnya menjelang Agresi Militer Belanda II, jumlah total persenjataan Divisi Siliwangi sendiri memprihatinkan, rata-rata 1:10.24 Jauh dibawah persenjataan Batalyon VI yang dipimpin KH. Sholeh Iskandar. Kemudian wajar saja apabila Batalyon VI yang kemudian di reorganisasi menjadi Batalyon O disegani kawan dan lawan, bukan hanya karena jumlah senjatanya, tetapi juga karena semangat, daya juang, disiplin dan pengorganisasiannya cukup rapi.
Sebenarnya tidak banyak orang atau masyarakat Indonesia mengetahui tentang Batalyon O Siliwangi ini, namun A.H Nasution menuliskan dalam bukunya yang berjilid-jilid Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, bahwa keberadaan Batalyon ini benar adanya. Pangkat terakhir yang dianugerahi kepada KH. Sholeh Iskandar adalah Mayor.Namun setelah kemerdekaan Republik Indonesia diakui Belanda pada Desember 1949 dalam konferensi Meja Bundar, kemudian barulah TNI bisa mengorganisasi dirinya sendiri sedangkan laskar membubarkan diri dan kembali menjadi masyarakat tak terkecuali KH. Sholeh Iskandar bersama rekannya saat menjabat sebagai Komandan KDM di Rangkasbitung pada 1950.
Bergabungnya dengan Partai Politik
Kiprahnya tidak sebatas dalam memperjuangkan kemerdekaan saja, di tahun 1950 setelah ia berhenti dari dunia kemiliteran ia kembali mengabdi kepada masyarakat dengan terjun ke dunia politik. Ia pun bergabung ke Partai Masyumi bersama rekan-rekan seperjuangannya seperti Muhammad Natsir, KH. Noer Ali dan tokoh lainnya sebagai pengurus dalam partai Islam tersebut. Aktifitas KH. Sholeh Iskandar dalam berpolitik khususnya bergabung dengan Partai Masyumi tidak banyak diceritakan, KH. Sholeh Iskandar lebih aktif berpolitik di daerahnya sendiri yaitu Masyumi cabang Bogor, sebelumnya H. Lukman Hakiem menuturkan bahwa KH. Sholeh Iskandar pernah ditawarkan untuk bergabung sebagai pejabat poitik di Mayumi pusat, namun beliau dengan lantang menolaknya, ini terlihat bahwa sifat rendah hati beliau patut kita contoh karena beliau lebih senang membangun masyarakat daerahnya sendiri dibanding mengambil satu jabatan tinggi.29 Sebelumnya ketika beliau belum bergabung dengan partai Masyumi juga pernah terlibat dalam politik dengan mendampingi Bupati I Bogor selama pemerintahan darurat di Jasinga-Malasari, pada saat itu beliau masih seorang Kapten KH. Sholeh Iskandar Komandan Batalyon.
Sumber: KONTRIBUSI KH. SHOLEH ISKANDAR DALAM MEMAJUKAN PENDIDIKAN ISLAM DI BOGOR (1968-1992)
