Emosi memang bagian dari kehidupan. Namun jika amarah muncul terus-menerus dan sulit dikendalikan, dampaknya bukan hanya memengaruhi hubungan dengan orang lain, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan jantung. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ledakan emosi yang berulang mampu meningkatkan risiko gangguan irama jantung atau aritmia, kondisi yang dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius apabila tidak ditangani.
Peringatan ini disampaikan para ahli kesehatan setelah melihat hubungan antara stres emosional, kemarahan, dan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Saat seseorang marah, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Kedua hormon tersebut membuat detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan kebutuhan oksigen pada otot jantung menjadi lebih besar.
Kondisi tersebut sebenarnya merupakan respons alami tubuh. Namun bila terjadi terlalu sering, jantung dipaksa bekerja lebih keras dalam waktu yang berulang sehingga berpotensi memicu gangguan irama jantung.
Mengutip laporan Okezone Health, dokter spesialis jantung menjelaskan bahwa kemarahan yang tidak terkendali dapat menjadi salah satu faktor pemicu aritmia, terutama pada orang yang telah memiliki riwayat penyakit jantung, hipertensi, diabetes, atau faktor risiko kardiovaskular lainnya. Sumber: https://women.okezone.com/read/2026/07/21/482/3231446/orang-yang-sering-marah-marah-bisa-kena-gangguan-irama-jantung.
Aritmia Tidak Selalu Menimbulkan Gejala
Gangguan irama jantung terjadi ketika impuls listrik yang mengatur denyut jantung mengalami gangguan. Akibatnya, jantung dapat berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan.
Sebagian orang mungkin hanya merasakan jantung berdebar, pusing, sesak napas, atau mudah lelah. Namun pada beberapa kasus, aritmia bisa muncul tanpa gejala sehingga sering tidak disadari hingga dilakukan pemeriksaan medis.
Jika kondisi ini terus berlanjut, komplikasi yang mungkin terjadi antara lain stroke, gagal jantung, bahkan henti jantung mendadak pada kasus tertentu.
Hubungan Emosi dan Kesehatan Jantung Sudah Banyak Diteliti
Temuan mengenai hubungan antara emosi dan kesehatan jantung juga diperkuat oleh berbagai lembaga kesehatan internasional. American Heart Association (AHA) menjelaskan bahwa stres kronis dan kemarahan yang berlangsung lama dapat meningkatkan tekanan darah, memperburuk peradangan dalam tubuh, serta memengaruhi sistem saraf yang mengendalikan denyut jantung.
Sementara Mayo Clinic menyebutkan bahwa ledakan emosi yang intens dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular pada orang yang memiliki faktor risiko sebelumnya. Walaupun kemarahan bukan satu-satunya penyebab aritmia, kondisi tersebut dapat menjadi pemicu munculnya gangguan irama jantung pada individu yang rentan.
Menurut para ahli, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga pola makan dan aktivitas fisik. Pengelolaan stres yang baik membantu menurunkan beban kerja jantung sekaligus memperbaiki kualitas hidup secara keseluruhan.
Gaya Hidup Sehat Menjadi Kunci Pencegahan
Selain belajar mengendalikan emosi, masyarakat juga dianjurkan menerapkan gaya hidup sehat untuk menjaga fungsi jantung tetap optimal.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Berolahraga secara rutin minimal 150 menit setiap minggu.
- Tidur yang cukup setiap malam.
- Mengurangi konsumsi makanan tinggi garam, gula, dan lemak jenuh.
- Berhenti merokok serta membatasi konsumsi alkohol dan kafein berlebihan.
- Melakukan teknik relaksasi seperti meditasi, latihan pernapasan, atau yoga.
- Memeriksakan kesehatan secara berkala, terutama bagi yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, maupun penyakit jantung.
Mengelola emosi bukan berarti menahan semua perasaan. Yang lebih penting adalah menemukan cara yang sehat untuk mengekspresikan rasa marah, kecewa, atau stres agar tidak berdampak buruk terhadap kesehatan fisik maupun mental.
Jangan Abaikan Gejala yang Muncul
Apabila sering mengalami jantung berdebar tanpa sebab, nyeri dada, pusing, sesak napas, atau pernah pingsan secara tiba-tiba, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan seperti elektrokardiogram (EKG), pemantauan denyut jantung, maupun evaluasi kondisi jantung lainnya dapat membantu menemukan penyebab sejak dini.
Menjaga kesehatan jantung bukan hanya soal makanan bergizi atau olahraga rutin. Mengelola emosi, mengurangi stres, dan menjaga keseimbangan hidup juga menjadi bagian penting agar jantung tetap bekerja secara optimal hingga usia lanjut.
Sumber:
- Okezone Health: https://women.okezone.com/read/2026/07/21/482/3231446/orang-yang-sering-marah-marah-bisa-kena-gangguan-irama-jantung
- American Heart Association (AHA): https://www.heart.org
- Mayo Clinic: https://www.mayoclinic.org



