Telur asin sudah lama menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Indonesia. Rasanya yang gurih, teksturnya yang khas, dan daya simpannya yang lebih lama membuat pangan ini sering dijadikan lauk maupun pelengkap berbagai hidangan. Namun, di balik cita rasanya yang menggugah selera, ada hal penting yang perlu diketahui terkait kandungan gizinya.
Pakar dari IPB University mengungkapkan bahwa proses pembuatan telur asin memang mampu memperpanjang masa simpan telur, tetapi di sisi lain juga memengaruhi kualitas gizinya. Informasi ini menjadi pengingat bahwa makanan tradisional tetap perlu dikonsumsi secara bijak agar manfaat kesehatannya tetap optimal.
Menurut penjelasan IPB University, proses penggaraman membuat garam masuk ke dalam pori-pori cangkang telur melalui mekanisme osmosis. Selama proses tersebut, kadar air dalam telur berkurang dan kadar natrium meningkat. Kondisi ini membuat telur menjadi lebih awet karena pertumbuhan mikroorganisme dapat ditekan.
Meski demikian, proses tersebut juga menyebabkan beberapa zat gizi mengalami perubahan. Sejumlah vitamin yang sensitif terhadap pengolahan dapat mengalami penurunan, sementara kadar natrium meningkat cukup signifikan dibandingkan telur segar. Hal inilah yang menjadi perhatian para ahli gizi.
Telur pada dasarnya merupakan sumber protein berkualitas tinggi. Selain protein, telur juga mengandung vitamin A, vitamin D, vitamin B12, kolin, selenium, zat besi, fosfor, serta berbagai mineral penting yang dibutuhkan tubuh. Kandungan tersebut berperan dalam menjaga fungsi otak, kesehatan mata, pembentukan sel darah merah, hingga memperkuat sistem imun.
Namun setelah melalui proses pengasinan, sebagian kandungan vitamin dapat berkurang akibat perubahan kimia selama penyimpanan dan pemrosesan. Meski proteinnya masih relatif terjaga, peningkatan kandungan garam menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau sedang membatasi asupan natrium.
Sejumlah penelitian di bidang pangan juga menunjukkan bahwa metode pengolahan memang dapat memengaruhi kandungan nutrisi suatu bahan makanan. Penggaraman merupakan teknik pengawetan yang efektif, tetapi penggunaan garam dalam jumlah tinggi berpotensi meningkatkan asupan natrium harian apabila dikonsumsi terlalu sering.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menganjurkan konsumsi garam kurang dari lima gram per hari atau setara sekitar satu sendok teh. Jika kebutuhan tersebut sering terlampaui, risiko hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke dapat meningkat dalam jangka panjang.
Karena itu, para ahli menyarankan agar telur asin tetap dinikmati sebagai bagian dari pola makan yang seimbang, bukan sebagai lauk utama yang dikonsumsi setiap hari. Mengombinasikannya dengan sayuran segar, buah-buahan, dan sumber protein lain dapat membantu menjaga keseimbangan nutrisi.
Ahli gizi juga mengingatkan bahwa kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Bagi individu yang sehat, mengonsumsi telur asin sesekali umumnya masih aman selama tidak berlebihan. Sementara bagi penderita hipertensi, penyakit ginjal, atau gangguan jantung, pembatasan makanan tinggi natrium menjadi langkah yang lebih disarankan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Selain memperhatikan frekuensi konsumsi, cara penyajian juga bisa membuat menu menjadi lebih sehat. Misalnya, mengurangi penggunaan penyedap atau garam tambahan saat memasak lauk pendamping telur asin. Dengan begitu, total asupan natrium dalam satu kali makan tidak menjadi terlalu tinggi.
Pakar pangan IPB University menekankan bahwa masyarakat tidak perlu menghindari telur asin sepenuhnya. Yang lebih penting adalah memahami karakteristik gizinya sehingga bisa menentukan porsi konsumsi yang sesuai. Edukasi seperti ini diharapkan membantu masyarakat membuat pilihan makanan yang lebih bijak tanpa harus meninggalkan kuliner tradisional yang sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia.
Kesadaran terhadap kandungan gizi makanan semakin penting seiring meningkatnya kasus penyakit tidak menular yang berkaitan dengan pola makan. Membaca informasi gizi, mengatur variasi menu, serta membatasi konsumsi makanan tinggi garam merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, telur asin tetap menjadi salah satu pangan khas Indonesia yang memiliki nilai budaya sekaligus cita rasa yang istimewa. Selama dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diimbangi dengan pola makan bergizi seimbang, makanan ini masih dapat menjadi bagian dari menu harian tanpa mengabaikan kesehatan.
Sumber:
- IPB University – Pakar IPB University: Telur Asin Enak, tapi Nilai Gizinya Turun. IPB University News
Tingkatkan Kompetensi Bersama MK Academy
Ingin memperdalam pengetahuan di bidang keamanan pangan, laboratorium, HACCP, ISO 22000, FSSC 22000, GMP, maupun sistem manajemen mutu? Tingkatkan kompetensi Anda bersama MK Academy melalui program pelatihan yang dibimbing instruktur berpengalaman dan dirancang sesuai kebutuhan industri. Kunjungi www.mkacademy.id atau hubungi WhatsApp 0813-1843-2603 untuk mendapatkan informasi jadwal pelatihan, konsultasi, dan sertifikasi profesional.




