Sisa makanan yang biasanya langsung masuk tempat sampah ternyata masih punya nilai guna. Kulit buah, sayuran, nasi, ampas kopi, hingga sisa bahan makanan tertentu bisa diolah menjadi kompos dan pupuk organik. Cara ini bukan hanya membantu mengurangi tumpukan sampah, tetapi juga memberi kesempatan untuk mengembalikan unsur organik ke tanah.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mencatat sampah makanan menjadi salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah. Pada 2024, timbulan sampah nasional tercatat sekitar 27,74 juta ton dan sisa makanan menyumbang hampir 40 persen. Kondisi ini membuat pengolahan sampah organik menjadi pupuk menjadi langkah yang menarik untuk diterapkan dari rumah, sekolah, hingga lingkungan usaha.
Mengubah Sisa Makanan Menjadi Kompos
Prosesnya cukup sederhana. Sisa makanan yang mudah membusuk dipilah terlebih dahulu dari plastik, logam, kaca, atau bahan lain yang tidak bisa terurai. Bahan organik kemudian dicacah agar ukurannya lebih kecil sehingga mikroorganisme lebih mudah menguraikannya.
Setelah itu, sisa makanan dapat dicampur dengan bahan kering seperti daun, sekam, potongan rumput, atau kertas tanpa lapisan plastik. Campuran perlu dijaga kelembapannya dan mendapat udara yang cukup. Tumpukan kompos juga sebaiknya dibalik secara berkala supaya proses penguraian berjalan merata dan tidak menimbulkan bau berlebihan.
Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa mikroorganisme lokal atau MOL dapat dibuat dari bahan organik seperti buah, nasi, bonggol pisang, dan bahan alami lain. MOL bisa dimanfaatkan sebagai aktivator kompos karena mengandung mikroorganisme yang membantu menguraikan bahan organik.
Manfaat untuk Tanah dan Lingkungan
Kompos dari limbah makanan dapat membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kemampuan tanah menahan air, serta mendukung aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat. Jika digunakan dengan tepat, bahan organik juga membantu menyediakan unsur hara bagi tanaman.
Manfaatnya tidak berhenti di kebun. Pengolahan sisa makanan menjadi pupuk membantu mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir. Pemerintah juga mendorong pengelolaan sampah organik melalui pengomposan, biokonversi, dan teknologi lain agar sampah bisa berubah menjadi sumber daya yang lebih berguna.
Pengolahan Limbah Bisa Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Penerapannya bisa dimulai dari langkah kecil. Rumah tangga dapat menyediakan wadah khusus untuk sisa makanan, sekolah bisa membuat area kompos, sementara pelaku usaha makanan dapat memilah sisa produksi sebelum dibuang. Dengan kebiasaan memilah sejak awal, proses pengolahan menjadi lebih mudah dan hasilnya lebih bersih.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, tidak semua sisa makanan cocok dimasukkan ke kompos rumah tangga. Bahan yang mengandung minyak berlebihan, makanan hewani dalam jumlah banyak, atau bahan yang berpotensi menarik hama sebaiknya dikelola dengan metode yang sesuai. Pengaturan bahan, kelembapan, udara, dan waktu penguraian perlu diperhatikan.
Langkah Praktis Membuat Pupuk Alami
Pertama, kumpulkan sisa buah dan sayur yang bersih. Kedua, potong menjadi bagian kecil agar lebih cepat terurai. Ketiga, campurkan dengan bahan kering supaya kompos tidak terlalu basah. Keempat, simpan dalam wadah yang memiliki sirkulasi udara dan pantau kelembapannya. Kelima, balik campuran secara berkala sampai teksturnya berubah menjadi gelap, remah, dan tidak berbau menyengat. Setelah matang, kompos bisa digunakan sebagai campuran media tanam atau pembenah tanah sesuai kebutuhan tanaman secara bertahap.


