BOGOR – Pemahaman tentang hutan Indonesia tidak cukup hanya melihat kondisi kawasan dan kelestarian alam. Mahasiswa juga perlu memahami hubungan hutan dengan masyarakat, industri, ekonomi, teknologi, sertifikasi, sampai rantai pasok. Pesan itu mengemuka dalam Celebration FSC Forest Week 2026 yang digelar di Auditorium Sylva Pertamina, IPB University, Bogor, Sabtu (3/10/2026).
Forum tersebut mempertemukan mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University dengan akademisi serta praktisi sektor kehutanan. Diskusi membahas pengelolaan hutan yang bertanggung jawab sekaligus membuka gambaran mengenai kebutuhan kompetensi bagi calon profesional kehutanan.
Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc.F.Trop., menilai pendidikan punya peran penting dalam membentuk generasi yang mampu melihat persoalan hutan dari berbagai sisi. Hutan bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dan pembangunan.
Karena itu, mahasiswa diajak tidak berhenti pada pembahasan ekologi. Pengetahuan tentang industri hasil hutan, sertifikasi, pemanfaatan produk, serta rantai pasok menjadi bagian yang tidak kalah penting. Cara pandang yang lebih luas dinilai bisa membantu mahasiswa memahami bagaimana ilmu yang mereka pelajari terhubung dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Dalam dialog tersebut hadir Mohamad Miftah Rahman, PhD, dosen dan peneliti Departemen Hasil Hutan IPB University, Indra Setia Dewi, Value Chain & Business Development Manager FSC Indonesia, serta Thomas Hidayat Kurniawan, CEO MK Academy. Diskusi dipandu Meyla Fadila Hasanah dari MK Academy.
CEO MK Academy Soroti Kebutuhan Kompetensi Kehutanan
Thomas Hidayat Kurniawan menyoroti perkembangan kebutuhan tenaga profesional di sektor kehutanan. Menurutnya, kompetensi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga pemahaman mengenai keberlanjutan, sertifikasi, asesmen, dan rantai pasok.
Ia juga menilai ruang dialog antara kampus dan industri penting untuk membangun kesiapan mahasiswa sebelum masuk ke dunia profesional. Menurutnya, mahasiswa perlu terbiasa membaca persoalan secara menyeluruh, memahami standar yang digunakan perusahaan, serta mampu menghubungkan teori dengan praktik. Hal ini membuat pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berkembang menjadi kemampuan untuk menganalisis kebutuhan, menemukan risiko, dan menawarkan solusi yang relevan.
Dari sisi industri, pemahaman seperti itu juga membantu membentuk sumber daya manusia yang siap menghadapi tuntutan pasar. Terlebih, isu keberlanjutan kini berkaitan dengan proses bisnis, mulai dari pemilihan bahan baku, pengelolaan produksi, dokumentasi, hingga penyampaian informasi kepada pelanggan. Kompetensi mahasiswa pun perlu mengikuti hubungan antarproses tersebut.
FSC dan Rantai Pasok Jadi Bagian Penting
Pandangan tersebut sejalan dengan pembahasan mengenai Forest Stewardship Council (FSC). Sertifikasi FSC dan Chain of Custody (CoC) berkaitan dengan upaya memastikan material berbasis hutan dapat ditelusuri dalam rantai pasok. Bagi perusahaan, pemahaman mengenai ketertelusuran, pengendalian material, dokumentasi, dan penggunaan klaim FSC menjadi bagian penting dalam penerapan sistem.
MK Academy sendiri memiliki program pelatihan yang membahas sertifikasi FSC serta CoC FSC. Materinya mencakup prinsip FSC, jenis sertifikasi, persiapan dokumen, penerapan sistem, sampai simulasi audit. Program tersebut dapat menjadi salah satu jembatan untuk mempertemukan pembelajaran dengan kebutuhan kompetensi profesional di sektor kehutanan.
Bagi mahasiswa, dialog seperti ini memberi ruang untuk melihat peluang kerja secara lebih luas. Lulusan kehutanan bisa berkiprah dalam penelitian, pengelolaan hutan, industri hasil hutan, konsultasi, sertifikasi, sustainability, hingga supply chain. Bekal akademik akan semakin kuat ketika disertai pemahaman tentang standar dan praktik yang digunakan industri.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian FSC Forest Week 2026 di Indonesia yang melibatkan FSC Indonesia, IPB University, Tetra Pak Indonesia, IRCOMM Group, dan MK Academy. Pertemuan antara kampus dan pelaku industri menjadi langkah penting agar pembelajaran kehutanan tetap dekat dengan persoalan nyata.
Dengan pemahaman yang lebih utuh, mahasiswa diharapkan mampu melihat hutan bukan hanya sebagai kawasan yang harus dijaga, tetapi sebagai bagian dari sistem yang melibatkan lingkungan, masyarakat, ekonomi, industri, dan masa depan Indonesia.
Sumber: Okezone Edukasi – Dialog di IPB University, Mahasiswa Diminta Pahami Hutan Indonesia Secara Utuh


