Belakangan ini, obrolan soal strategi “bakar uang” atau burn money di kalangan raksasa marketplace makin hangat dibahas. Kalau kamu sering dapet notifikasi diskon gede-gedean, gratis ongkir tanpa minimal belanja, sampai cashback yang nggak masuk akal, itu adalah wujud nyata dari strategi ini. Tapi pertanyaannya, apakah cara main kayak gini beneran bikin perusahaan makin tajir atau malah pelan-pelan bikin mereka buntung?
Strategi bakar uang sebenarnya adalah teknik lama yang dipakai buat narik perhatian pengguna sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Tujuannya simpel: penguasaan pasar alias market share. Marketplace rela rugi miliaran bahkan triliun rupiah demi membangun ekosistem. Mereka pengen kita ketergantungan sama aplikasinya, sampai akhirnya kita nggak mau pindah ke lain hati.
Untung di Mata Pengguna, Tantangan buat Pengusaha
Bagi kita sebagai pembeli, fenomena ini jelas bikin untung. Siapa sih yang nggak mau belanja barang incaran dengan harga miring plus nggak perlu bayar ongkos kirim? Melansir dari laporan Katadata, era subsidi besar-besaran ini emang jadi magnet kuat buat ningkatin Gross Merchandise Value (GMV) atau total nilai transaksi di sebuah platform.
Namun, kalau dilihat dari sisi bisnis, kondisinya nggak selalu manis. Banyak perusahaan startup yang akhirnya tumbang karena kehabisan napas sebelum sempat mencicipi profit. Melansir dari Investor Daily, industri e-commerce sekarang mulai bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan angka transaksi menuju fokus pada keberlanjutan bisnis. Investor nggak lagi cuma silau sama jumlah pengguna, tapi mereka mulai tanya: “Kapan perusahaan ini mulai menghasilkan duit beneran?”
Nggak semua pihak setuju sama cara main banting harga ini. Mantan Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, sempat menyentil praktik ini dalam sebuah diskusi yang dikutip dari detikFinance. Menurut beliau, aksi bakar uang yang menjurus ke predatory pricing atau banting harga ekstrem bisa ngerusak ekosistem perdagangan. Hal ini dianggap kurang sehat karena bisa mematikan pesaing kecil yang nggak punya modal segede raksasa teknologi.
Di sisi lain, pengamat ekonomi digital melihat kalau strategi ini cuma bisa bertahan kalau perusahaan punya ekosistem pendukung yang kuat, kayak layanan pembayaran digital atau logistik sendiri. Misalnya saja Shopee yang sukses ngenalin ShopeePay lewat promo bakar uang yang masif. Tanpa adanya layanan tambahan yang bikin pengguna “terkunci”, strategi bakar uang cuma bakal jadi ajang bagi-bagi duit gratis yang nggak berbekas.
Transformasi Menuju Profitabilitas
Masuk ke tahun 2026, peta persaingan makin berubah. Marketplace nggak lagi agresif kayak dulu. Kamu mungkin ngerasa sekarang dapet gratis ongkir makin susah atau biaya layanan makin banyak jenisnya. Ini adalah tanda kalau perusahaan marketplace lagi berusaha buat “sembuh” dari ketergantungan bakar uang.
Iswanda F. Satibi dalam opininya di Katadata menyebut kalau fenomena ini adalah tanda pendewasaan industri. Platform sekarang lebih fokus ningkatin take rates atau komisi dari penjual dan ngoptimalin pendapatan dari iklan di dalam aplikasi. Jadi, kalau dulu mereka fokus nyari orang buat install aplikasi, sekarang mereka fokus gimana caranya tiap transaksi itu menghasilkan cuan buat perusahaan.
Dampaknya buat Seller dan Buyer
Buat penjual, perubahan strategi ini ada sisi gelap dan terangnya. Sisi gelapnya, potongan biaya admin makin kerasa mencekik. Tapi sisi terangnya, pembeli yang datang biasanya lebih berkualitas karena mereka belanja karena butuh barangnya, bukan cuma karena ngejar diskon receh.
Sedangkan buat kita sebagai pembeli, kita harus mulai terbiasa belanja dengan harga yang lebih masuk akal. Era “pesta pora” diskon gila-gilaan mungkin pelan-pelan bakal hilang dan diganti sama program loyalitas yang lebih eksklusif.
Kesimpulannya, fenomena bakar uang itu ibarat pedang bermata dua. Kalau dieksekusi dengan tepat, bisa jadi tangga menuju dominasi pasar yang kokoh. Tapi kalau cuma asal bakar tanpa perhitungan yang matang, yang ada malah perusahaan bakal “hangus” sendiri sebelum sampai di garis finis.
Sumber:
-
Katadata.co.id: E-Commerce 2026, Akhir Pesta Bakar Uang
-
Investor.id: E-Commerce Tak Lagi Bakar Uang, Masuk Era Efisiensi
-
DetikFinance: Mendag Ungkap Kejanggalan di Marketplace: Banting Harga-Bakar Duit
-
Tirto.id: Era Bakar Uang Meredup, Startup Unicorn Berjuang Agar Tak Lenyap
