Penerapan Kaizen dengan Konsep 5S/5R (Bagian 5)

Seven Waste

Dalam konsep lean, waste merupakan pemborosan yang mungkin terjadi dalam aktifitas dan tidak menambah nilai produk, tapi malah menambah beban konsumsi sumber daya. Porter dalam Hicks et al., 2004 yang dikutip oleh Mughni, 2012 menjelaskan bahwa paling tidak terdapat tujuh macam waste yaitu:

  1. Over production
    Produksi barang jadi atau produksi barang setengah jadi yang berlebihan.
  2. Waiting time (delay)
    Proses menunggu kedatangan material, informasi, peralatan dan perlengkapan yang tidak memberikan nilai tambah.
  3. Excessive transportation
    Pergerakan material, informasi, peralatan atau perlengkapan dalam pabrik yang tidak memberikan nilai tambah tetapi memerlukan biaya.
  4. Inappropriate processing
    Terjadi dalam situasi ketika terdapat ketidaksesuaian proses atau metode operasi produksi yang diakibatkan oleh penggunaan tools yang tidak sesuai dengan fungsinya, kesalahan prosedur atau sistem operasi.
  5. Excessive inventory
    Terjadi ketika terdapat tumpukan produk jadi, WIP atau bahan baku lebih di gudang atau di aliran produksi.
  6. Unnecessary motion
    Jika terjadi pergerakan yang tidak ergonomis atau tidak perlu baik karena rancangan stasiun kerja yang salah atau rancangan metode yang buruk.
  7. Defect
    Terjadi karena ketidak-sempurnaan produk sehingga menyebabkan adanya alokasi tenaga kerja untuk proses pengerjaan ulang (rework), banyak scrap dan tenaga kerja menangani pekerjaan klaim dari pelanggan (repair).

Sepanjang tahun 1990-an dan awal 2000-an beberapa metode dan kerangka kerja terkait permasalahan seputar waste telah dikembangkan. Beberapa diantaranya adalah practical program of revolution in factories (PPORF) oleh Kobayasi, pendekatan perbaikan terus-menerus atau kaizen oleh Imai, holistic framework oleh Lim dan rekan-rekanya, penggunaan 5S secara praktis untuk pengurangan waste oleh O‟h ocha dan lain-lain (Rawabdeh, 2005 dikutip oleh Mughni, 2012).

Meskipun demikian, pendekatan-pendekatan tersebut tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap hubungan antara jenis waste. Oleh karena itu diperlukan suatu alat eliminasi waste yang cukup komprehensif yang dapat memberikan analisa yang memadai untuk menentukan strategi eliminasi waste tanpa memberikan pengaruh negatif pada waste jenis lain. Hubungan antar waste sangat kompleks karena pengaruh dari masing-masing jenis terhadap yang lainnya dapat tampak secara langsung atau secara tidak langsung (Rawabdeh, 2005 dikutip oleh Mughni, 2012).

Penerapan Kaizen dengan Konsep 5S/5R (Bagian 4)

Laga Terakhir Liga Super Picu Lonjakan Penjualan Merchandise Persib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *