Penggunaan bahan bakar fosil (seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam) memicu perubahan iklim karena pembakarannya melepaskan miliaran ton emisi karbon seperti \(CO2) setiap tahun. Gas ini memerangkap panas matahari di atmosfer bumi, memperkuat efek rumah kaca, dan menyebabkan pemanasan global.
Pembuatan energi
Pembuatan energi listrik dan panas dengan membakar bahan bakar fosil akan menghasilkan emisi global dalam jumlah besar. Sebagian besar energi listrik masih dihasilkan dengan membakar batu bara, minyak, atau gas. Pembakaran ini akan menghasilkan karbon dioksida dan dinitrogen oksida, yakni gas rumah kaca berbahaya yang menyelimuti Bumi dan memerangkap panas matahari. Hanya sekitar seperempat dari energi listrik global yang dihasilkan dari angin, tenaga surya, dan sumber daya terbarukan lainnya. Tidak seperti bahan bakar fosil, sumber daya terbarukan hanya sedikit atau tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca atau polusi udara.
Penggunaan transportasi
Sebagian besar mobil, truk, kapal, dan pesawat beroperasi menggunakan bahan bakar fosil. Hal ini menjadikan sektor transportasi sebagai kontributor utama gas rumah kaca, terutama emisi karbon dioksida. Kendaraan darat menghasilkan emisi paling banyak karena adanya pembakaran produk berbahan dasar minyak bumi, seperti bensin, dalam mesin pembakaran internalnya. Namun, emisi dari kapal dan pesawat terus meningkat. Transportasi menyumbang hampir seperempat dari emisi karbon dioksida global terkait energi. Selain itu, tren menunjukkan bahwa akan terjadi peningkatan signifikan dalam penggunaan energi untuk transportasi pada tahun-tahun mendatang.
Proses Utama Pemicu Perubahan Iklim
- Emisi Gas Rumah Kaca: Pembakaran fosil menghasilkan gas seperti Karbon Dioksida ((CO_2)) dan Metana ((CH_4)).
- Efek Selimut Atmosfer: Gas-gas tersebut terperangkap di atmosfer dan berfungsi layaknya selimut yang menyelimuti Bumi.
- Peningkatan Suhu Global: Selimut gas ini menahan radiasi panas matahari yang seharusnya dipantulkan kembali ke luar angkasa, sehingga suhu rata-rata bumi terus meningkat
Untuk mengurangi efek perubahan iklm harus mulai beralih ke energi non fosil, yaitu energi dari biomassa. kita memerlukan upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan dampak pemanasan global, salah satunya dengan menggunakan energi terbarukan. Dari sekian banyak energi terbarukan yang bisa Anda pilih, Anda bisa mulai dengan biomassa. Biomassa adalah energi alternatif yang berasal dari organisme, seperti kayu, limbah kayu, limbah pabrik kelapa sawit, limbah pertanian dll
Beberapa contoh biomassa adalah kayu, sekam, briket arang, daun kering, dan lain-lain. Contoh tersebut dapat digunakan sebagai sumber energi dan bahan bakar. Ketika dibakar, biomassa menghasilkan panas atau listrik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Di Indonesia, potensi bioenergi seperti biomassa sangat besar dan dapat diandalkan sebagai sumber energi di masa depan. Menurut Kementerian ESDM, potensi sumber biomassa di Indonesia setara dengan 56,87 GW listrik.
Untuk memastikan energi terbarukan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan sustainability, harus ada pemahaman terhadap standar Sustainabel Biomass ,yang mengacu ke GGL /Green Gold Label atau SBP, Sustainable Biomass programme. Pemahaman tentang GGL & SBP dapat diperoleh dengan ikut pelatihan GGL & SBP di MK Academy, www.mkacademy.id
Penulis
Thomas Hidayat K
MK Academy



