Diam-Diam Mengintai, Kurang Gerak Jadi Pemicu Berbagai Penyakit di Indonesia

Jakarta – Kesibukan kerja, waktu yang terasa sempit, hingga kebiasaan berlama-lama di depan layar ternyata membawa dampak yang lebih besar dari yang dibayangkan. Kurangnya aktivitas fisik kini menjadi salah satu tantangan kesehatan yang cukup serius di Indonesia. Meski terlihat sepele, kebiasaan jarang bergerak bisa membuka jalan bagi berbagai penyakit kronis yang mengancam kualitas hidup masyarakat.

Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa sekitar 37,4 persen penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas masih kurang melakukan aktivitas fisik. Angka ini memperlihatkan bahwa lebih dari sepertiga masyarakat belum memenuhi kebutuhan gerak tubuh yang dianjurkan untuk menjaga kesehatan.

Menurut Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan, alasan yang paling sering muncul adalah tidak memiliki waktu. Hampir setengah responden mengaku sulit menyisihkan waktu untuk berolahraga atau sekadar bergerak lebih banyak dalam aktivitas sehari-hari. Selain itu, faktor rasa malas, usia yang semakin bertambah, dan tidak adanya teman beraktivitas juga menjadi penyebab utama.

Gaya Hidup Duduk Terlalu Lama Mulai Jadi Kebiasaan

Perkembangan teknologi memang memberi banyak kemudahan. Namun di sisi lain, teknologi juga membuat aktivitas harian semakin minim gerakan. Banyak pekerjaan dilakukan di depan komputer, rapat berlangsung secara daring, belanja bisa lewat aplikasi, bahkan makanan datang langsung ke rumah tanpa perlu berjalan keluar.

Akibatnya, aktivitas sedentari atau kebiasaan duduk terlalu lama semakin meningkat. Kondisi ini membuat pembakaran energi tubuh menurun dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit per minggu. Aktivitas tersebut tidak selalu harus berupa olahraga berat. Jalan kaki, bersepeda santai, membersihkan rumah, berkebun, hingga bermain bersama anak termasuk bentuk aktivitas fisik yang bermanfaat bagi tubuh.

Risiko Penyakit Mengintai dari Kebiasaan Kurang Bergerak

Kurang aktivitas fisik berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, stroke, hingga penyakit jantung. Ketika tubuh jarang bergerak, kalori yang masuk tidak terbakar secara optimal sehingga menumpuk menjadi lemak. Dalam jangka panjang kondisi ini dapat memicu gangguan metabolisme yang serius.

Kementerian Kesehatan juga pernah menegaskan bahwa kurang gerak merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular yang saat ini menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin membantu menjaga sirkulasi darah, meningkatkan kebugaran jantung, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh.

Selain berdampak pada kesehatan fisik, kurang bergerak juga berpengaruh terhadap kesehatan mental. Aktivitas fisik diketahui mampu membantu tubuh menghasilkan hormon yang berkaitan dengan suasana hati, sehingga seseorang cenderung lebih rileks dan produktif setelah berolahraga atau melakukan aktivitas aktif lainnya.

Diskusi publik mengenai rendahnya aktivitas fisik juga ramai dibahas di berbagai platform. Dalam salah satu diskusi komunitas daring, banyak pengguna mengungkapkan bahwa hambatan utama bukan hanya rasa malas, tetapi juga lingkungan yang kurang mendukung. Beberapa warga mengeluhkan trotoar yang belum nyaman, waktu kerja yang panjang, hingga kemacetan yang membuat energi habis sebelum sempat berolahraga.

Komentar lain menyebutkan bahwa budaya lembur dan tingginya tekanan pekerjaan membuat sebagian orang memilih beristirahat saat akhir pekan dibanding melakukan aktivitas fisik. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa masalah kurang gerak tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada individu, melainkan juga berkaitan dengan kondisi lingkungan dan pola hidup masyarakat secara umum.

Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan

Meningkatkan aktivitas fisik tidak harus dimulai dengan target besar. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah dipertahankan.

Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan antara lain berjalan kaki saat membeli kebutuhan harian, menggunakan tangga dibanding lift, melakukan peregangan di sela pekerjaan, bersepeda santai, atau mengikuti kegiatan komunitas olahraga di lingkungan sekitar. Dukungan keluarga dan teman juga terbukti membantu seseorang lebih konsisten menjaga kebiasaan aktif.

Pemerintah dan berbagai pihak juga diharapkan terus memperluas ruang terbuka hijau, jalur pejalan kaki yang aman, serta fasilitas publik yang mendukung masyarakat untuk lebih aktif bergerak setiap hari.

Kurang gerak mungkin terlihat sebagai kebiasaan sederhana, tetapi dampaknya dapat berlangsung bertahun-tahun. Menyisihkan waktu beberapa menit setiap hari untuk bergerak bisa menjadi investasi kesehatan yang jauh lebih berharga dibanding harus menghadapi berbagai penyakit di kemudian hari. Tubuh memang dirancang untuk bergerak, dan menjaga kebiasaan itu adalah langkah penting menuju hidup yang lebih sehat.

Sumber: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dan rekomendasi aktivitas fisik dari World Health Organization.

More From Author

MK Academy Berikan Pelatihan Chain of Custody (CoC) FSC untuk Produk Tekstil PT GOLL di PT Golden Tekstil Indonesia

One thought on “Diam-Diam Mengintai, Kurang Gerak Jadi Pemicu Berbagai Penyakit di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *