Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan cuma soal api yang membakar pepohonan atau lahan kering. Saat terjadi bersamaan dengan kondisi El Nino yang membuat cuaca lebih kering, dampaknya bisa melebar ke banyak sisi, termasuk kesehatan, aktivitas warga, sampai perputaran ekonomi daerah.
Fenomena ini perlu dilihat sebagai persoalan yang saling berkaitan. Ketika karhutla meluas, asap dapat mengganggu jarak pandang dan kualitas udara. Aktivitas transportasi bisa ikut terdampak, sementara masyarakat di sekitar lokasi kebakaran harus mengurangi kegiatan di luar rumah. Kondisi tersebut pada akhirnya bisa membuat aktivitas usaha melambat.
Dari sisi ekonomi, kerugian tidak berhenti pada nilai lahan atau tanaman yang terbakar. Petani dapat kehilangan hasil produksi, pelaku usaha menghadapi penurunan aktivitas, dan pemerintah perlu menyiapkan biaya tambahan untuk pemadaman serta penanganan dampak kebakaran. Jika kondisi berlangsung lama, efeknya bisa terasa seperti rantai yang menyambung dari satu sektor ke sektor lain.
BeritaSatu menyoroti bahwa karhutla di tengah perkembangan El Nino berpotensi menimbulkan dampak ekonomi berantai. Artinya, risiko yang muncul perlu ditangani sejak sebelum api membesar, bukan hanya ketika kebakaran sudah terjadi. Sumber: BeritaSatu.com.
Mengapa dampaknya bisa melebar?
Ada beberapa jalur yang membuat karhutla berpotensi menekan ekonomi. Pertama, sektor pertanian dan perkebunan dapat terdampak ketika lahan terbakar atau mengalami kekeringan. Kedua, gangguan transportasi akibat asap bisa menghambat perjalanan dan distribusi barang. Ketiga, aktivitas perdagangan dan jasa di wilayah terdampak dapat ikut menurun karena masyarakat membatasi mobilitas.
Selain itu, kualitas udara yang buruk juga bisa meningkatkan beban sosial dan ekonomi. Ketika warga mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap, kebutuhan untuk mendapatkan layanan kesehatan bisa bertambah. Dunia kerja pun dapat terkena dampak karena produktivitas menurun saat kondisi lingkungan tidak mendukung.
Cara mengurangi risiko karhutla dan dampak ekonominya
- Pantau kondisi cuaca dan titik rawan
Pemantauan cuaca, kondisi lahan, serta titik panas perlu dilakukan secara rutin, terutama saat wilayah memasuki periode kering. Informasi ini bisa menjadi dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan lebih cepat. - Hindari pembakaran lahan
Pembukaan atau pembersihan lahan dengan api perlu dihindari. Cara ini berisiko membuat api sulit dikendalikan, terutama ketika vegetasi kering dan angin cukup kuat. - Siapkan sistem deteksi dan respons cepat
Perusahaan, pemerintah daerah, dan masyarakat di wilayah rawan perlu punya jalur pelaporan yang jelas. Api yang ditemukan sejak awal lebih mudah ditangani dibanding kebakaran yang sudah menyebar luas. - Perkuat kerja sama di lapangan
Penanganan karhutla tidak bisa berjalan sendiri. Pemerintah, perusahaan, masyarakat, relawan, dan petugas pemadam perlu berbagi informasi serta bergerak dalam koordinasi yang jelas. - Lindungi sektor ekonomi yang paling rentan
Wilayah dengan aktivitas pertanian, perkebunan, perdagangan, dan transportasi yang tinggi perlu menyiapkan rencana cadangan. Tujuannya supaya kegiatan ekonomi tetap bisa berjalan saat terjadi gangguan akibat asap atau kebakaran. - Pulihkan lahan setelah kebakaran
Pemadaman bukan akhir dari persoalan. Lahan yang terbakar perlu dipantau dan dipulihkan agar tidak kembali menjadi sumber kebakaran. Pengelolaan lahan yang lebih baik juga membantu mengurangi risiko kerugian berulang.
Karhutla dan El Nino menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bisa cepat berubah menjadi persoalan ekonomi. Karena itu, pencegahan menjadi langkah yang jauh lebih penting daripada menunggu kerugian muncul. Kesiapan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu dibangun bersama supaya dampak kebakaran tidak berkembang menjadi masalah yang lebih panjang.
Langkah pencegahan perlu disesuaikan dengan karakter wilayah. Lahan gambut membutuhkan perhatian khusus karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan sulit terlihat. Pemantauan berkala, pengelolaan sumber air, serta edukasi kepada warga menjadi bagian kesiapan.
Bagi dunia usaha, mitigasi bisa dimasukkan ke dalam rencana operasional dan manajemen risiko. Dengan begitu, perusahaan bukan fokus pada pemadaman, tetapi juga menjaga aset, pekerja, rantai pasok, dan keberlangsungan usaha saat cuaca berubah.
Menjaga hutan dan lahan aman bukan hanya urusan lingkungan. Ini berkaitan dengan menjaga penghasilan masyarakat, kelancaran distribusi, produktivitas pekerja, dan kestabilan ekonomi daerah.
Sumber: BeritaSatu – Karhutla di Tengah El Nino Bisa Picu Kerugian Ekonomi Berantai
