Stres? Siapa sih yang nggak pernah ngerasain? Kerjaan numpuk, jadwal padat, atau cuma bangun pagi udah keburu deadline. Nah, belakangan ini ada tren unik yang bilang “Coba peluk pohon 21 detik untuk bikin kamu lebih rileks.” Kedengarannya lucu? Tapi ternyata ada dasar ilmiahnya, lho!
Ide ini berakar dari praktik Jepang yang sudah lebih dulu dikenal luas: shinrin-yoku, atau forest bathing yang artinya “mandi hutan” bukan mandi pakai air tapi mandi dalam atmosfer hutan. Penelitian menunjukkan bahwa berada di alam terbuka di bawah pohon bisa membantu tubuh menurunkan tanda-tanda stres seperti hormon kortisol dan tekanan darah. (Park et al., 2010; Antonelli, Barbieri & Donelli, 2019)
Misalnya, dalam meta analisis yang ditulis Antonelli dkk. (2019), hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kortisol (hormon stres) menurun signifikan setelah individu melakukan aktivitas forest bathing dibandingkan dengan yang berada di lingkungan perkotaan. (Antonelli, Barbieri & Donelli, 2019) Penelitian lain oleh Park dan kolega (2010) juga menemukan penurunan detak jantung dan tekanan darah setelah individu menikmati suasana hutan. (Park et al., 2010)
Terus, dari mana angka spesifik “21 detik”? Angka ini banyak disebutkan di artikel-artikel wellness karena dikaitkan dengan durasi kontak fisik yang dianggap cukup untuk memicu hormon oksitosin. Hormon oksitosin adalah hormon yang membuat kita merasa nyaman, tenang, dan terhubung. Konsep ini sering dibahas dalam konteks pelukan antar manusia; tapi beberapa praktisi wellness juga mengadaptasinya untuk pelukan pada pohon sebagai simbol atau cara terhubung dengan alam. Walaupun belum ada studi ilmiah yang secara khusus meneliti “21 detik memeluk pohon” sebagai protokol pasti, ide dasarnya adalah durasi cukup untuk memperlambat napas, fokus pada sensasi, dan membiarkan tubuh masuk ke mode santai.
Jadi sebenarnya apa yang bikin rileks bukan angka 21 itu sendiri, tapi pengalaman keseluruhan: berhenti sejenak, tarik nafas dalam, rasakan kulit menyentuh batang pohon, dengarkan suara daun, dan nikmati suasana hijau sekitar. Ini semua berkontribusi pada aktivasi sistem saraf parasimpatis, bagian dari tubuh yang bertugas menenangkan kita setelah stres. (Farrow & Washburn, 2019)
Selain itu, efek positif dari alam juga terlihat pada aspek psikologis: pengalaman berada di alam meningkatkan mood, menurunkan kecemasan, dan memberi perasaan damai yang semuanya membantu mengurangi stres mental. (Chen, Meng & Luo, 2025)
Singkatnya: boleh banget kalau kamu ingin coba tantangan peluk pohon 21 detik sebagai momen berhenti sejenak dari hiruk-pikuk hidup. Nggak perlu merasa aneh saat kamu sedang memberi tubuh kamu waktu untuk bernapas, terhubung dengan alam, dan mengingatkan pikiran bahwa dunia itu lebih dari sekadar pekerjaan dan notifikasi. Siapa tahu setelah itu kamu merasa lebih tenang, lebih ringan, dan jauh lebih siap menghadapi hari.
Referensi penelitian ilmiah (ilmiah & peer‑reviewed)
- Meta analisis efek shinrin-yoku terhadap kortisol (biomarker stres)
• https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31001682/ - Review efek shinrin‑yoku terhadap berbagai tanda kesehatan (tekanan darah, stres, sistem saraf)
• https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36328581/ - Penelitian eksperimental efek shinrin‑yoku di 24 hutan berbeda di Jepang (fisik + stres)
• https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2793346/ - Review sistematis yang membahas shinrin‑yoku dan kesehatan mental
• https://link.springer.com/article/10.1007/s11469-020-00363-4 - Artikel populer yang membahas bukti ilmiah efek alam terhadap stres dan kesehatan
• https://healthcrunch.org/articles/2025-10-11-forest-bathing - Dokter IPB University : Peluk pohon dalam forest bathing bisa redakan stres
•https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/07/dokter-ipb-university-peluk-pohon-dalam-forest-bathing-bisa-redakan-stres/

