Olahraga sering disebut sebagai cara paling masuk akal buat menurunkan lemak tubuh. Tapi sebenarnya, apa sih yang terjadi di dalam tubuh saat kita mulai bergerak, berkeringat, dan napas makin berat?
Jawabannya bukan cuma soal kalori terbakar, tapi ada proses biologis yang cukup kompleks dan menarik.
Lemak Tidak Langsung “Hilang”
Saat tubuh mulai berolahraga, sumber energi pertama yang dipakai bukan lemak, melainkan glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen di otot dan hati. Setelah cadangan ini mulai menipis, tubuh baru beralih ke lemak sebagai bahan bakar utama.
Lemak yang tersimpan di tubuh akan dipecah menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak ini lalu masuk ke aliran darah dan dibakar di dalam mitokondria sel otot melalui proses yang dikenal sebagai oksidasi lemak.
Menurut American Council on Exercise (ACE), olahraga dengan intensitas sedang dan durasi lebih lama justru lebih efektif memaksimalkan pembakaran lemak dibanding latihan singkat tapi terlalu berat.
Peran Detak Jantung dan Intensitas
Zona detak jantung sangat berpengaruh. Saat detak jantung berada di kisaran 60–70 persen dari maksimal, tubuh cenderung menggunakan lemak lebih banyak sebagai sumber energi. Itulah alasan jalan cepat, jogging santai, bersepeda, atau berenang sering direkomendasikan untuk pembakaran lemak.
Namun bukan berarti latihan intensitas tinggi tidak berguna. High Intensity Interval Training (HIIT) justru memicu efek afterburn, di mana tubuh tetap membakar kalori dan lemak bahkan setelah latihan selesai.
Hormon Ikut Bekerja
Olahraga juga memicu pelepasan hormon penting seperti adrenalin, noradrenalin, dan growth hormone. Hormon-hormon ini membantu mempercepat pemecahan lemak dari jaringan adiposa agar bisa digunakan sebagai energi.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Andri Suyono, menjelaskan bahwa olahraga rutin membuat tubuh lebih “efisien” membakar lemak.
“Kalau olahraga dilakukan konsisten, tubuh akan terbiasa memakai lemak sebagai sumber energi. Ini bukan proses instan, tapi hasilnya jauh lebih stabil dan sehat,” jelasnya.
Lemak Keluar Lewat Mana?
Banyak yang mengira lemak keluar lewat keringat. Faktanya, sebagian besar lemak yang terbakar justru keluar lewat napas dalam bentuk karbon dioksida, sementara sisanya keluar sebagai air lewat urin dan keringat.
Penelitian dari University of New South Wales menyebutkan sekitar 84 persen lemak yang terbakar akan keluar melalui pernapasan.
Tidak Cukup Hanya Olahraga
Meski olahraga punya peran besar, pembakaran lemak akan lebih optimal jika dibarengi pola makan seimbang dan tidur cukup. Tanpa itu, tubuh bisa kesulitan masuk ke fase pembakaran lemak maksimal.
Ahli gizi olahraga, Rita Ramayulis, menegaskan bahwa defisit kalori tetap jadi kunci.
“Olahraga membantu, tapi kalau asupan makan berlebihan, lemak tetap menumpuk. Kuncinya ada di keseimbangan,” ujarnya.
Sumber:
- American Council on Exercise (ACE)
- Journal of Physiology – Fat Oxidation in Exercise
- University of New South Wales – “Where Does Body Fat Go?”
- Kementerian Kesehatan RI – Pedoman Aktivitas Fisik
- Wawancara dan pernyataan ahli gizi & dokter olahraga
Penulis: Admin YS

