Bogor — Kisah Ki Imang yang tegas nolak uang Rp1 miliar demi satu pohon di Gunung Salak jadi perbincangan hangat di jagat digital. Cerita ini bukan sekadar viral buat alasan sensasi semata, tapi nunjukin teladan nyata soal cinta lingkungan yang diapresiasi banyak pihak, termasuk pemerintah.
Ki Imang, yang dikenal sebagai penjaga lahan di kawasan Gunung Salak, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, tampil beda dari kebanyakan orang. Saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sengaja nawarin sampai Rp1 miliar buat tebang satu pohon rasamala yang besar dan tua, Ki Imang dengan lugas menolak. Bahkan, nominal itu dinaikkan beberapa kali, tetap ditolak. “Lebih baik gak makan daripada nebang pohon,” ujarnya blak-blakan.
Penolakan ini bukan sekedar omdo atau gaya-gayaan doang. Menurut Ki Imang, pohon rasamala bukan cuma kayu keras yang bisa dibikin barang mahal, tapi bagian penting dari ekosistem Gunung Salak nyerap air, mengikat tanah, dan bantu jaga keseimbangan alam yang rapuh.
Dari Menolak Uang Besar ke Proyek Penanaman Skala Besar
Kalau di lihat situasinya cuma soal uang Rp1 miliar, mungkin cerita sudah selesai. Tapi yang bikin sorotan bergeser adalah langkah Gubernur Dedi Mulyadi setelah melihat sikap Ki Imang. Dia justru nunjukin kepercayaan besar dengan ngasih amanah buat Ki Imang pimpin proyek penanaman pohon di kawasan tersebut.
Ganti tawaran jual pohon, Gubernur malah ngajak Ki Imang menanam ribuan bibit pohon rasamala dan berbagai jenis tanaman lokal lain di area hutan yang penting banget buat resapan air dan mencegah longsor. Kerja bareng ini bukan sekadar program pemerintah, tapi bentuk nyata kolaborasi antara warga lokal dan pemerintah buat jaga kelestarian alam.
Dedi sendiri bilang kalau niat awalnya bukan buat bikin konten atau transaksi jual beli kayu, tapi buat nguji integritas. “Saya titip gunung ini ke Abah,” katanya sambil nunjukin rasa hormatnya ke prinsip Ki Imang yang menjunjung tinggi alam di atas materi uang.
Kenapa Ini Jadi Isu yang Penting?
Kisah Ki Imang bikin banyak orang mikir ulang soal cara pandang tentang hutan dan keuntungan jangka pendek. Gunung Salak bukan sekadar puncak dan jalur pendakian buat wisatawan. Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) adalah salah satu hulu air penting buat wilayah Bogor dan sekitarnya. Kelestarian hutan di sini nyambung langsung ke kehidupan ribuan warga di sekitarnya.
Sayangnya, ancaman buat hutan ini nyata banget. Selama beberapa bulan terakhir, kawasan kaki Gunung Salak juga jadi sorotan karena isu pembalakan liar yang bikin hutan gundul dan mengancam resapan air serta kualitas air buat warga sekitar. Aktivitas ilegal ini udah berlangsung lebih dari dua tahun, dan kerusakan yang ditimbulkan makin jelas bukan cuma kehilangan pepohonan, tapi dampaknya juga terasa di kehidupan sehari-hari warga setempat.
Belum lama ini, pemerintah bahkan turun tangan tegas dengan menertibkan bangunan ilegal dan kegiatan tambang tanpa izin untuk lindungi ekosistem TNGHS. Langkah ini nunjukin kalau upaya pelestarian bukan cuma urusan relawan atau warga lokal, tapi juga jadi prioritas bagi pemangku kebijakan.
Apa Makna Besar dari Sikap Ki Imang?
Respons Ki Imang nolak duit besar demi satu pohon rasamala bisa jadi cermin nilai yang makin jarang ditemui belakangan. Banyak orang yang langsung lihat angka dulu, baru mikir dampak jangka panjang. Sementara Ki Imang justru mau taruh keselamatan hutan di depan. Keputusannya dianggap bukan sekadar menolak uang, tapi menyelamatkan sumber kehidupan yang tak ternilai harganya.
Kisah ini juga dorong banyak pihak buat mikir lebih serius soal pentingnya program penghijauan dan keterlibatan aktif masyarakat lokal. Di banyak daerah lain di Jawa Barat, program penanaman ribuan pohon terus digencarkan buat bantu kurangi risiko longsor dan banjir program yang melibatkan warga, aparat daerah, sampai organisasi masyarakat.
Kolaborasi antara Ki Imang dan Pemprov Jawa Barat nunjukin kalau aksi pelestarian lingkungan bisa berjalan kalau semua pihak duduk bareng, saling ngargain nilai lokal, dan punya tujuan yang jelas. Ini bukan soal menyalahkan satu pihak, tapi bikin solusi nyata yang bisa nguntungin banyak orang dari anak sekolah yang butuh lingkungan sehat sampe petani yang tergantung dari kondisi tanah yang subur.
Kalau kita tarik garis besar, cerita ini bukan sekadar tentang satu orang yang nolak uang gede. Ini kisah soal bagaimana seseorang bisa jadi inspirasi bagi publik luas buat mikir ulang tentang hubungan manusia dan alam, serta gimana tindakan sederhana bisa punya dampak besar buat generasi yang akan datang.
Sumber:
- Radar Bogor: Ogah Terima Rp1 Miliar, Ki Imang Dipercaya Gubernur Jawa Barat Tanam Bibit Rp3 Miliar di Gunung Salak
- Indopop: Ditawar 1 Miliar oleh Dedi Mulyadi, Kakek di Bogor Tolak Tebang Pohon

