Indonesia — Indonesia lagi diwaspadai serius soal budaya baca di masyarakat luas. Data terbaru yang dirilis menunjukkan kalau masyarakat Indonesia masih punya persoalan besar dalam hal literasi, terutama minat baca masyarakat yang terbilang rendah jika dibanding negara lain di dunia.
Gak cuma sekadar bilang “orang gak suka baca”, fakta yang muncul jauh lebih pelik. Misalnya, dari hasil studi internasional PISA 2022, skor kemampuan membaca pelajar Indonesia berada di posisi bawah dari negara-negara lain, bahkan cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Ini bikin banyak pihak khawatir karena literasi sebenarnya jadi dasar buat bersaing di dunia yang makin kompleks.
Kenapa Ini Jadi Soal Serius?
Minat baca yang rendah bukan cuma masalah “males buka buku”. Ini berdampak pada kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, sampai kemampuan menyaring berita yang bertebaran online. Tantangan ini makin terlihat jelas di tengah derasnya arus konten digital yang sering kali cepat, singkat, tapi dangkal.
Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, meskipun sebagian besar anak Indonesia bisa membaca, banyak dari mereka gak paham apa yang dibaca. Ini menunjukkan bahwa kemampuan literal membaca saja gak cukup harus paham isi, konteks, sampai maknanya.
Gak Bisa Dianggap Sepele
Berbagai sumber bahkan menyebut kalau minat baca masyarakat Indonesia tergolong sangat rendah. Survei UNESCO yang sering dikutip merekam bahwa indeks minat baca Indonesia cuma sekitar 0,001%, yang artinya hanya sekitar 1 dari 1.000 orang yang betul-betul punya kebiasaan membaca yang konsisten dan mendalam.
Kalau dibanding negara lain di ASEAN, posisi Indonesia berada di peringkat bawah hampir sejajar dengan negara yang punya tantangan literasi berat.
Santai Tapi Bikin Pusing: Komentar dari Berbagai Pihak
Bukan cuma pejabat yang angkat suara soal ini. Dari komunitas sampai akademisi ikut nimbrung soal kenapa minat baca sulit banget buat naik.
Anggota DPR RI Lestari Moerdijat bilang, literasi itu bukan urusan sekolah aja, tapi perlu kolaborasi semua pihak dari keluarga, komunitas, sampai sektor swasta supaya budaya baca tumbuh dari bawah. Dia tekankan kalau kota besar sekalipun belum tentu lebih baik literasinya jika lingkungan sosial gak mendukung.
Sementara itu di tingkat lokal, petugas perpustakaan Surabaya bilang kalau minat baca masyarakat terutama anak muda masih rendah banget karena mereka lebih tertarik sama gadget dan konten singkat di media sosial. Mereka menyarankan agar perpustakaan dan sekolah lebih kreatif dalam tarik perhatian anak muda ke baca buku.
Di sisi lain, penulis opini menyentil tren budaya digital yang bikin banyak orang nyaman dengan konten singkat. Ini dipandang bisa memicu “brain rot” kondisi di mana kemampuan fokus baca panjang jadi turun drastis karena terlalu terbiasa konsumsi konten ringan.
Dampak Terasa di Dunia Pendidikan
Masalah literasi ini juga langsung berimbas ke sekolah. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyatakan kalau kemampuan literasi siswa, khususnya dalam bahasa Indonesia, masih kurang banget. Bahkan kenaikan skor literasi pun hanya sedikit dari tahun ke tahun. Hal ini bikin banyak guru dan sekolah berpikir ulang tentang cara ngajarnya supaya anak gak cuma bisa baca, tapi paham, menganalisis, dan menerapkan apa yang mereka baca.
Program seperti deep learning dan pembelajaran kontekstual sedang digalakkan supaya siswa gak sekadar menghafal, tapi benar-benar sadar akan konten yang mereka baca dan gunakan dalam kehidupan nyata.
Solusi? Gak Cuma Dari Sekolah
Banyak pihak sepakat kalau solusi buat literasi gak bisa datang cuma dari kurikulum atau aturan semata. Butuh pendekatan yang lebih fun, lebih relevan, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari:
- Peran keluarga buat ngenalin kebiasaan baca sejak dini.
- Komunitas baca yang kreatif dan kekinian bisa bikin buku jadi cool lagi.
- Perpustakaan gak cuma jadi tempat sepi, tapi ruang komunitas yang seru buat ngumpul dan diskusi.
- Teknologi digital dipakai buat bantu literasi, bukan sekadar hiburan tanpa makna.
Minat baca rendah di Indonesia bukan sekadar statistik. Ini tantangan besar yang berdampak langsung ke cara kita berpikir, belajar, dan bersaing secara global. Tanpa kolaborasi dari semua lapisan masyarakat dari keluarga, sekolah, pemerintah sampai komunitas persoalan ini bakal terus bikin bangsa kita kehilangan potensi besar yang bisa dibangkitkan lewat budaya baca.

