Tanam Pohon, KKNT IPB Mitigasi Longsor Gunung Salak

Bogor, Jawa Barat — Aksi tanam pohon oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University di Gunung Salak jadi salah satu langkah nyata dalam upaya mitigasi risiko longsor yang terus dibahas publik. Gerakan ini bukan sekadar simbolik, tapi konkret dan berkolaborasi dengan warga dan berbagai pihak lokal untuk turut menjaga stabilitas tanah yang rawan longsor.

Sabtu lalu, sekitar 500 bibit pohon ditanam di titik-titik yang masuk zona rawan longsor di Desa Cijeruk, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Acara ini dilakukan sebagai bagian dari Program Antisipasi Bencana Cijeruk (ABC) yang digagas oleh tim mahasiswa KKNT IPB University 2026. Aksi ini dipimpin langsung oleh kelompok mahasiswa dan melibatkan warga desa, perwakilan BPDAS Ciliwung, serta relawan dari Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB).

Foto kegiatan terlihat mahasiswa dan warga menyusuri lereng sambil membawa bibit pohon durian, mahoni, ketapang ken ana, dan pucuk merah untuk ditanam di titik-titik strategis yang ditentukan berdasarkan pemetaan risiko bencana.

Kolaborasi warga jadi kunci

Sebelum melakukan penanaman, tim mahasiswa mengadakan edukasi intensif soal mitigasi bencana dan pemetaan kawasan rawan longsor bersama warga. Edukasi ini diadakan beberapa hari sebelum aksi tanam, yang kemudian ditindaklanjuti dengan penyerahan peta rawan bencana kepada pemerintah desa.

Menurut ketua kelompok mahasiswa, Langkah ini penting banget buat komunitas di sini karena tanah di lereng Gunung Salak mudah goyah kalau terlalu banyak hujan lebat dan akarnya sedikit. Akar pohon yang tumbuh nanti diharapkan bisa bantu “mengikat” tanah dan memperlambat aliran air saat hujan deras, yang biasanya jadi pemicu utama longsor.

Kenapa penanaman pohon bisa bantu cegah longsor?

Selain jadi aksi langsung di lapangan, penanaman pohon juga punya dasar ilmiah kuat. Menurut akademisi geologi, perakaran tanaman bisa memperkuat struktur tanah di lereng sehingga tanah tidak mudah tergerus oleh aliran air hujan. Akar yang tumbuh secara alami bantu menahan partikel tanah sekaligus mengendalikan kadar air tanah, yang ujungnya bisa mengurangi risiko longsor.

Lebih dari itu, pohon bisa jadi “penyangga hidup” karena mampu menyerap air secara bertahap dan meredakan tekanan air permukaan yang sering jadi penyebab utama terjadinya longsor. Ini jadi salah satu motivasi kuat di balik gerakan KKNT IPB di lereng Gunung Salak.

Respons dan komentar ahli lain

Seorang ahli lingkungan yang tidak terlibat langsung dalam kegiatan ini memberikan pandangannya: “Penanaman pohon memang salah satu strategi mitigasi bencana yang efektif, tapi harus didukung dengan perbaikan manajemen lahan dan pengawasan terhadap aktivitas yang merusak, seperti pembalakan liar. Tanpa itu, risiko tetap tinggi meskipun pohon sudah ditanam.” Komentar tersebut sejalan dengan laporan yang memperlihatkan dampak negatif pembalakan liar di kawasan hutan Gunung Halimun Salak, yang makin memperbesar risiko banjir dan longsor karena tanah kehilangan kemampuan menyerap air.

Selain itu, beberapa pakar geologi menekankan pentingnya peran masyarakat dan pihak akademik dalam mitigasi, bukan hanya penanaman pohon, tapi juga langkah preventif lain seperti penguatan struktur tanah, monitoring kondisi lereng, dan edukasi bahaya bencana secara terus-menerus.

Apa artinya buat warga lokal?

Warga setempat menyambut kegiatan ini dengan antusias. Seorang warga Desa Cijeruk mengungkapkan bahwa inisiatif tersebut “bener-bener dibutuhin karena tanah di sini gampang goyang kalau hujan deras.” Ia juga berharap aksi serupa bisa terus berlanjut agar lingkungan di lereng ini makin kuat dan mampu mengurangi risiko bencana.

Program ini juga membuka ruang kolaborasi antara mahasiswa, warga, pemerintah desa, dan organisasi lingkungan lokal. Kolaborasi ini dianggap penting karena kegiatan mitigasi tidak bisa berhasil hanya dengan satu pihak saja. Semua elemen harus bergerak bareng supaya hasilnya lebih tahan lama.

Langkah berikutnya

Mahasiswa KKNT IPB menyatakan bahwa aksi tanam pohon ini bukan seremonial semata, tapi bakal diikuti dengan monitoring berkala terhadap pertumbuhan tanaman dan evaluasi lokasi rawan longsor yang lain. Tujuannya supaya mitigasi risiko bisa terus dilakukan secara berkelanjutan.

Sumber:

More From Author

Minat Baca Rendah, Indonesia Hadapi Masalah Literasi yang Serius

Masih Salah Posisi? Begini Cara Menempatkan Jari di Keyboard Saat Mengetik 10 Jari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *