Nama artificial intelligence alias AI makin sering seliweran di mana-mana. Dari urusan kerja, sekolah, bisnis online, sampai hiburan, semua serba AI. Tapi di balik lonjakan popularitas itu, ada satu fakta yang cukup menggelitik nggak semua orang bisa benar-benar memanfaatkan teknologi ini.
Data terbaru dari Amazon Web Services (AWS) menunjukkan, adopsi AI di Indonesia tumbuh pesat, bahkan mencapai 47 persen secara tahunan. Dalam setahun, sekitar 5,9 juta bisnis di Tanah Air mulai mencoba AI untuk berbagai kebutuhan. Tapi sayangnya, baru 21 persen perusahaan besar yang benar-benar memaksimalkan AI buat inovasi produk dan layanan. Sisanya masih sekadar coba-coba, bahkan banyak yang mentok di tahap awal .
Fenomena ini bukan cuma terjadi di Indonesia. Secara global, Microsoft lewat laporan “AI Diffusion Report” menyebutkan bahwa AI berkembang lebih cepat dibanding teknologi lain dalam sejarah, termasuk listrik dan internet. Meski begitu, setengah populasi dunia masih kesulitan mengakses dan memanfaatkan AI karena keterbatasan infrastruktur, listrik, hingga internet .
Salah satu penyebab utama kenapa AI belum bisa dimanfaatkan semua orang adalah kesenjangan digital. Di Indonesia, gap ini terasa banget antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Daerah metropolitan dengan jaringan internet stabil dan akses pendidikan yang lebih baik cenderung lebih siap mengadopsi AI. Sementara itu, wilayah rural masih bergelut dengan koneksi lemot, perangkat terbatas, dan minimnya literasi digital.
Riset dari Universitas Airlangga menyebut, adopsi AI di Indonesia dipengaruhi kuat oleh kualitas infrastruktur digital, tingkat literasi, serta dukungan institusi. Selain itu, faktor budaya juga ikut main peran. Masih ada anggapan kalau teknologi itu ribet, mahal, dan cuma cocok buat anak muda di kota besar. Akibatnya, banyak potensi AI yang akhirnya nggak tergarap maksimal .
“Banyak pelaku UMKM sebenarnya tertarik pakai AI buat promosi atau pencatatan keuangan, tapi begitu dengar istilah teknis, langsung mundur,” kata Rina, pegiat literasi digital di Bogor, saat dihubungi MK Media, Selasa (30/1/2026).
AWS juga mencatat, 57 persen pelaku usaha di Indonesia mengaku kekurangan SDM yang paham AI. Mereka punya teknologi dan niat, tapi nggak punya orang yang bisa menjalankannya. Ini jadi tantangan serius, apalagi ke depan hampir separuh jenis pekerjaan bakal menuntut kemampuan literasi AI.
Komentar senada datang dari praktisi teknologi, Dimas Prakoso. Menurutnya, banyak orang masih salah kaprah soal AI. “Banyak yang mikir AI itu cuma buat programmer atau perusahaan besar. Padahal sekarang tools AI sudah ramah buat siapa aja. Masalahnya, sosialisasinya belum merata,” ujarnya.
Di sisi lain, faktor bahasa juga jadi hambatan. Sebagian besar sistem AI global masih mengandalkan bahasa Inggris. Buat masyarakat yang belum terbiasa, ini bikin AI terasa makin jauh. Padahal, Indonesia punya lebih dari 700 bahasa daerah yang potensinya besar kalau bisa diakomodasi dalam pengembangan AI lokal.
Selain keterbatasan teknis, faktor psikologis juga berperan. Banyak orang ragu mencoba AI karena takut salah, takut data bocor, atau khawatir tergantikan mesin. Di kalangan pekerja kantoran, isu ini cukup sensitif. Ada kekhawatiran AI bakal bikin sejumlah profesi kehilangan relevansi.
Padahal, berbagai riset menunjukkan AI justru paling efektif saat dipakai sebagai alat bantu, bukan pengganti total manusia. Di sektor pendidikan misalnya, AI bisa dipakai buat bikin materi belajar lebih personal. Di UMKM, AI bisa bantu analisis tren pasar, bikin konten promosi, sampai mengatur stok barang.
“AI itu kayak asisten. Kalau tahu cara makainya, kerjaan bisa lebih cepat dan rapi. Tapi kalau nggak kenal, ya jadinya cuma nonton orang lain pakai,” kata Dimas.
Pemerintah dan swasta mulai sadar soal tantangan ini. Indonesia sedang menyiapkan peta jalan nasional AI untuk mendorong investasi, pengembangan talenta, dan pemerataan akses teknologi. Sejumlah perusahaan teknologi juga mulai membuka pusat inovasi AI di berbagai daerah, termasuk Papua, sebagai upaya mengejar ketertinggalan wilayah timur.
Langkah ini dinilai penting agar AI nggak cuma jadi milik segelintir orang di kota besar. Pemerataan akses, pelatihan gratis, dan konten edukasi yang mudah dipahami jadi kunci supaya masyarakat luas bisa ikut menikmati manfaat AI.
Pada akhirnya, persoalan utama bukan soal minat, tapi soal kemampuan dan kesempatan. Banyak orang sebenarnya mau belajar AI, tapi terbentur akses dan fasilitas. Kalau kesenjangan ini nggak segera diatasi, AI justru bisa memperlebar jurang sosial dan ekonomi.
Microsoft dalam laporannya bahkan mengingatkan, tanpa investasi serius di infrastruktur dan pendidikan, kesenjangan AI bisa bertahan puluhan tahun ke depan .
Di tengah gempuran teknologi, pertanyaannya bukan lagi “perlu atau nggak pakai AI”, tapi “gimana caranya biar semua orang bisa ikut pakai”. Tanpa itu, AI cuma akan jadi alat canggih yang dinikmati segelintir kalangan, sementara yang lain tertinggal di belakang.
Sumber :

