Heboh! Lutung Jawa Turun ke Permukiman di Cisaat Sukabumi, Warga Sempat Ketakutan

Warga Kampung Cibolang Kidul, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, dibuat heboh setelah seekor lutung jawa tiba-tiba turun dan berkeliaran di area permukiman. Kejadian yang berlangsung pada Kamis (29/1/2026) siang ini sempat memicu kepanikan, terutama di kalangan ibu-ibu dan anak-anak yang sedang beraktivitas di luar rumah.

Menurut keterangan warga, lutung itu pertama kali terlihat sekitar pukul 13.00 WIB. Hewan primata berbulu hitam tersebut tampak berjalan di atap rumah, melompat dari satu bangunan ke bangunan lain, hingga akhirnya turun ke pekarangan warga.

Sigit (40), salah satu warga setempat, mengaku kaget saat melihat kemunculan hewan yang sekilas mirip monyet, namun berpostur lebih besar dan berekor panjang.

“Awalnya dikira monyet biasa, tapi pas dilihat lebih dekat bentuknya beda. Warnanya hitam pekat, badannya lebih besar. Ibu-ibu langsung teriak, warga pun berdatangan. Lumayan bikin tegang,” kata Sigit.

Suasana kampung yang biasanya tenang mendadak berubah ricuh. Beberapa warga terlihat menutup pintu dan jendela rumah, sementara sebagian lainnya mengabadikan momen langka tersebut dengan ponsel.

Rina (32), warga sekitar, mengaku sempat ketakutan karena khawatir lutung masuk ke dalam rumah.

“Takut aja, apalagi di rumah ada anak kecil. Takut tiba-tiba masuk. Anak-anak langsung disuruh masuk semua,” ujarnya.

Tak sedikit anak-anak yang menangis karena terkejut melihat satwa liar berada begitu dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

Kemunculan lutung jawa di kawasan permukiman ini diduga karena hewan tersebut tersesat dari habitat alaminya di kawasan hutan sekitar Situ Gunung, yang jaraknya cukup jauh dari area permukiman padat.

Peneliti primata sekaligus pegiat lingkungan Sukabumi Hijau, Dede Rizal, menyebut ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan lutung turun ke pemukiman.

“Kemungkinan besar dia tersesat atau habitatnya terganggu. Bisa juga karena faktor manusia, misalnya ditangkap lalu dilepas. Kalau melihat lokasi, besar kemungkinan asalnya dari kawasan Situ Gunung,” jelas Dede.

Menurutnya, turunnya satwa liar ke permukiman warga bisa memicu konflik antara manusia dan hewan, apalagi lutung merupakan satwa yang hidup berkelompok dan jarang terlihat sendirian.

“Kalau lutung sendirian, itu tanda ada yang tidak normal. Bisa karena stres, lapar, atau kehilangan kelompoknya,” tambahnya.

Lutung jawa termasuk satwa dilindungi yang status populasinya terancam. Keberadaannya di alam punya peran penting menjaga keseimbangan ekosistem hutan, terutama dalam penyebaran biji-bijian.

Dede mengimbau warga agar tidak mencoba menangkap, melukai, atau mengusir dengan cara kasar.

“Kalau menemukan satwa liar, sebaiknya langsung lapor ke petugas atau pihak berwenang. Jangan main tangkap, karena bisa membahayakan warga dan hewannya,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa maraknya perambahan hutan dan menyusutnya ruang hijau membuat banyak satwa kehilangan habitat, sehingga terpaksa mencari makanan ke area permukiman.

Petugas Siaga, Evakuasi Jadi Opsi Terbaik

Setelah mendapat laporan warga, aparat desa dan petugas terkait langsung melakukan pemantauan di sekitar lokasi. Tujuannya untuk memastikan keselamatan warga sekaligus mencegah lutung mengalami cedera akibat kabel listrik, kendaraan, atau gangguan manusia.

Beberapa jam kemudian, lutung tersebut perlahan bergerak menjauh ke arah timur Sukabumi dan masuk ke kawasan yang lebih hijau.

Warga berharap, pihak berwenang bisa melakukan pemantauan lanjutan agar kejadian serupa tidak terulang.

“Kami sih berharap ada patroli rutin atau pemantauan. Kasihan juga hewannya, tapi warga juga butuh rasa aman,” ujar Sigit.

Kasus lutung jawa turun ke permukiman di Cisaat bukan kejadian pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wilayah di Sukabumi juga kerap dilaporkan kedatangan satwa liar seperti monyet ekor panjang, kukang, hingga lutung yang masuk ke sekolah dan rumah warga.

Fenomena ini dinilai sebagai alarm keras terkait menyempitnya habitat alami akibat alih fungsi lahan, pembangunan, dan tekanan aktivitas manusia.

Pengamat lingkungan menilai perlu ada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas pecinta alam untuk menjaga kawasan hutan dan koridor satwa, agar konflik manusia dan satwa bisa ditekan.

Edukasi Jadi Kunci Pencegahan

Selain patroli, edukasi kepada masyarakat dinilai penting agar warga memahami cara bersikap saat bertemu satwa liar. Sikap panik, melempar benda, atau berusaha menangkap justru berisiko memicu serangan.

Langkah sederhana seperti menjaga jarak, mengamankan anak-anak, dan segera menghubungi petugas bisa meminimalisir risiko.

Kejadian di Cisaat ini pun jadi pengingat bahwa manusia dan satwa liar sebenarnya berbagi ruang hidup yang sama. Menjaga keseimbangan alam bukan sekadar tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama.

Sumber & Referensi:

  • Koran Gala – “Geger! Lutung Cari Makan ke Permukiman Warga di Sukabumi”
  • detikJabar – “Heboh Lutung Jalan-jalan di Atap Rumah Warga Sukabumi”

More From Author

Perjalanan Sejarah Hard Disk 1GB, Cikal Bakal Penyimpanan Digital Modern

Hujan Lebat Berhari-hari, Sejumlah Ruas Jalan di Bogor Rusak dan Berlubang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *