Lebih Suka Berita Negatif? Ini Penyebab Pola Konsumsi Informasi Masyarakat Indonesia

Kalau kamu merasa linimasa media sosial atau portal berita makin dipenuhi kabar suram, kamu nggak sendirian. Banyak riset dan pengamatan menunjukkan, masyarakat Indonesia cenderung lebih tertarik membuka, membaca, dan membagikan berita bernuansa negatif. Mulai dari kasus kriminal, konflik, bencana, hingga skandal publik figur, semuanya sering jadi magnet klik.

Fenomena ini bukan sekadar soal selera, tapi berkaitan erat dengan cara otak manusia merespons ancaman, perubahan pola konsumsi media, serta pengaruh algoritma platform digital.

Kenapa Berita Negatif Lebih Menarik?

Psikolog dari IPB University, Nur Islamiah, menjelaskan bahwa otak manusia memang lebih cepat merespons informasi yang mengandung ancaman. Secara naluriah, manusia ingin tahu potensi bahaya di sekitarnya agar bisa bersiap dan bertahan. Itu sebabnya, berita kriminal, konflik, atau tragedi sering terasa lebih “menggugah” dibanding kabar positif.

“Paparan berita negatif yang terus-menerus bisa memicu stres, cemas, dan overthinking, apalagi jika dikonsumsi di pagi hari atau sebelum tidur,” ujarnya dalam keterangan resmi IPB University.

Hal ini diperkuat oleh riset di bidang psikologi yang menyebut kecenderungan ini sebagai negativity bias, yakni kondisi saat otak memberi perhatian lebih besar pada hal-hal negatif dibanding positif.

Minat tinggi pada berita negatif makin diperkuat oleh durasi online masyarakat Indonesia yang tergolong ekstrem. Berdasarkan laporan Digital 2025 Global Overview Report, rata-rata warga Indonesia menghabiskan waktu lebih dari 7 jam per hari untuk berselancar di internet. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan durasi online tertinggi di dunia.

Waktu online yang panjang membuat masyarakat terpapar arus informasi tanpa henti. Di tengah banjir konten tersebut, berita yang memicu emosi kuat marah, takut, sedih, atau kaget lebih mudah mencuri perhatian.

Platform digital seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X punya algoritma yang memprioritaskan konten dengan interaksi tinggi. Masalahnya, berita negatif cenderung memicu lebih banyak komentar, reaksi, dan perdebatan. Akibatnya, konten semacam ini lebih sering muncul di linimasa.

Tanpa disadari, pengguna akhirnya terjebak dalam siklus konsumsi berita negatif. Semakin sering diklik, semakin sering pula muncul. Inilah yang membuat banyak orang merasa dunia dipenuhi kabar buruk, padahal realitasnya lebih kompleks.

Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, mengingatkan bahwa paparan konten negatif berlebihan dapat mengganggu kesehatan mental, terutama pada anak dan remaja.

“Konten negatif yang terus muncul bisa memengaruhi emosi, perilaku, hingga cara pandang terhadap dunia,” ujarnya dalam wawancara dengan ANTARA.

Efeknya bukan cuma cemas dan stres, tapi juga muncul rasa takut berlebihan, pesimisme, bahkan kelelahan mental atau mental fatigue. Kondisi ini sering disebut sebagai doomscrolling, yakni kebiasaan terus-menerus menggulir berita buruk tanpa henti.

Penelitian dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung menemukan, dua faktor utama yang memengaruhi minat baca berita di media sosial adalah kedekatan isu dan unsur keunikan. Artinya, berita yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari serta mengandung unsur tak biasa, cenderung lebih menarik.

Berita kriminal lokal, konflik sosial, atau skandal publik figur memenuhi dua unsur tersebut. Selain dekat, unsur sensasionalnya membuat orang penasaran dan terdorong membagikannya.

Di berbagai forum diskusi online, banyak warganet mengaku sadar sering terjebak membaca berita negatif. Salah satu pengguna Reddit menulis bahwa dirinya kerap merasa capek mental setelah terlalu lama membaca kabar buruk, tapi tetap saja tergoda membuka berita serupa keesokan harinya.

“Kayak ada rasa penasaran yang nggak habis-habis, padahal ujungnya bikin capek sendiri,” tulis seorang pengguna di kolom komentar.

Tak bisa dimungkiri, sebagian media online memanfaatkan kecenderungan ini. Judul sensasional, diksi dramatis, dan narasi konflik sering dipakai demi mengejar klik dan trafik. Praktik ini membuat porsi berita negatif terasa makin dominan.

Padahal, paparan informasi yang seimbang sangat penting agar publik punya perspektif yang lebih sehat dan realistis.

Cara Mengatur Pola Konsumsi Berita

Agar nggak terjebak dalam lingkaran berita negatif, beberapa langkah sederhana bisa dicoba:

  1. Batasi waktu membaca berita, terutama di pagi hari dan sebelum tidur.
  2. Pilih sumber tepercaya dengan gaya pemberitaan seimbang.
  3. Imbangi dengan konten positif, seperti edukasi, inspirasi, dan hiburan sehat.
  4. Saring notifikasi aplikasi berita agar tidak terus-terusan terpapar kabar buruk.

Literasi digital juga jadi kunci. Masyarakat perlu lebih sadar dalam memilih, memilah, dan memaknai informasi.

Ketertarikan masyarakat Indonesia pada berita negatif bukan terjadi begitu saja. Ada peran naluri manusia, algoritma digital, kebiasaan online, hingga strategi media. Meski wajar, pola konsumsi ini perlu dikendalikan agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan mental dan cara pandang terhadap kehidupan.

Membaca berita itu penting, tapi menjaga kewarasan jauh lebih penting. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan memilah kabar jadi bekal utama agar tetap waras, kritis, dan bijak.

Sumber:
IPB University – Psikologi & Dampak Berita Negatif
ANTARA News – Paparan Konten Digital
UIN Sunan Gunung Djati Bandung – Studi Konsumsi Berita
Reddit – Diskusi Digital Lifestyle Indonesia

More From Author

Susah BAB? Ini Rekomendasi Makanan Tinggi Serat yang Aman Dikonsumsi

Mengenal Sejarah Sunda di Kampung Sindang Barang Bogor Lewat Wisata Budaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *