Ancaman Serius! Sungai di Tangerang Tercemar 20 Ton Pestisida

Tangerang — Warga Tangerang dibuat resah setelah ada kabar pencemaran Sungai Cisadane mencuat ke publik. Insiden ini dipicu kebakaran gudang pestisida yang berada kawasan Pergudangan Taman Tekno, BSD, Tangerang Selatan, yang menyebabkan sekitar 20 ton pestisida terbakar dan residunya mengalir ke sungai. Dampaknya bukan main: ikan mati massal, air berubah warna, bau menyengat, hingga gangguan pasokan air bersih di sejumlah wilayah.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) langsung turun tangan. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut, air sisa pemadaman kebakaran yang bercampur residu kimia mengalir ke Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane, lalu menyebar hingga puluhan kilometer. “Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar. Air sisa pemadaman bercampur residu kimia mengalir ke sungai dan berdampak serius ke ekosistem perairan dan warga sekitar,” kata Hanif dalam keterangan resminya.

Hasil pemantauan awal menunjukkan, pencemaran meluas sejauh sekitar 22,5 kilometer, mencakup wilayah Tangerang Selatan, Kota Tangerang, hingga Kabupaten Tangerang. Di sepanjang aliran sungai yang terdampak, warga menemukan ribuan ikan mati mengambang. Spesies yang terdampak pun beragam, mulai dari ikan nila, patin, baung, mas, hingga ikan sapu-sapu.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tangerang langsung melakukan pengambilan sampel air di beberapa titik. Pengujian laboratorium dilakukan untuk mengetahui kadar bahan kimia dan potensi bahaya lanjutan. Kepala Bidang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Tangerang, Ari Margo, mengatakan langkah ini krusial untuk menentukan tindakan lanjutan, terutama terkait keamanan air bagi kebutuhan harian warga.

Warga Cemas, Aktivitas Sungai Dihentikan

Di lapangan, situasi terasa mencekam. Sejumlah warga di bantaran Sungai Cisadane mengaku takut menggunakan air sungai, bahkan sekadar untuk mencuci. Bau kimia yang menusuk masih terasa di beberapa titik. Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat menghentikan sementara aktivitas di sungai, termasuk memancing dan memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan rumah tangga.

“Saya tinggal dekat sungai. Sejak kejadian, air jadi keruh dan baunya beda. Ikan-ikan mati, kami jadi takut,” ujar Rahmat, warga Batuceper, Kota Tangerang. Menurutnya, selama ini Sungai Cisadane jadi sumber air penting, terutama bagi warga yang belum terjangkau layanan air bersih maksimal.

Kekhawatiran juga datang dari pelaku usaha kecil yang bergantung pada air sungai. Siti, pemilik usaha laundry rumahan di Karawaci, mengaku terpaksa menghentikan operasional sementara. “Kalau airnya tercemar, risiko ke pelanggan besar. Lebih baik tutup dulu,” katanya.

Pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Prasetyo, menilai insiden ini berpotensi memicu dampak jangka panjang. Menurutnya, pestisida seperti cypermetrin dan profenofos yang terbakar dalam insiden ini punya sifat toksik tinggi. Jika residunya mengendap di sedimen sungai, pemulihan ekosistem bisa memakan waktu lama.

“Pestisida itu bukan cuma mematikan ikan, tapi juga mikroorganisme penting di sungai. Kalau rantai makanan terganggu, efeknya bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun,” ujarnya saat dihubungi. Ia juga menekankan pentingnya transparansi hasil uji laboratorium agar publik tahu seberapa parah tingkat pencemaran.

KLH menyatakan investigasi menyeluruh sedang berjalan. Sampel air diambil dari hulu hingga hilir, ditambah uji terhadap ikan mati dan biota perairan lain. Pemerintah juga menegaskan bakal menindak tegas pihak perusahaan jika terbukti lalai dalam pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3).

“Kami pastikan proses penegakan hukum berjalan transparan dan akuntabel. Evaluasi total sistem pengelolaan B3 di perusahaan terkait akan dilakukan,” tegas Menteri Hanif.

Di sisi lain, pemerintah daerah bersama BPBD, DLH, dan kepolisian terus melakukan pembersihan di titik-titik terdampak. Penaburan bahan netralisasi dan pemasangan pembatas aliran dilakukan untuk menekan penyebaran residu kimia.

Kasus ini jadi pengingat keras soal pentingnya pengawasan ketat terhadap kawasan industri, terutama yang menyimpan bahan kimia berbahaya. Tangerang sebagai salah satu pusat industri nasional, dinilai butuh sistem mitigasi risiko yang lebih matang, termasuk standar keamanan gudang, jalur limbah, hingga prosedur tanggap darurat.

Aktivis lingkungan dari komunitas Save Cisadane, Bima Sakti, menilai insiden ini bukan sekadar kecelakaan. “Ini cerminan lemahnya kontrol. Kalau pengawasan ketat, dampak bisa ditekan. Sungai itu sumber hidup, bukan tempat buang risiko industri,” tegasnya.

Sambil menunggu hasil resmi, warga diimbau untuk tetap waspada, tidak memanfaatkan air sungai, dan segera melapor jika menemukan tanda-tanda pencemaran lanjutan. Insiden ini jadi pelajaran mahal, bahwa satu kelalaian bisa berujung krisis lingkungan besar.

Sumber:

Pentingnya Pendidikan Nonformal untuk Dunia Kerja

Potret Jalan Suryakencana Jelang Imlek, Dari Lampion Hingga Kuliner Legendaris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *