BOGOR, JAWABARAT — Kalau ngomongin Imlek dan Cap Go Meh, pikiran kita pasti langsung meluncur ke kawasan Suryakencana di Bogor. Tempat ini emang nggak ada matinya kalau soal vibe pecinan yang otentik. Di balik hingar-bingar lampion dan suara tabuhan barongsai, ada satu bangunan yang berdiri kokoh dan jadi saksi sejarah perjalanan warga Tionghoa di Kota Hujan yaitu Vihara Dhanagun atau yang punya nama asli Hok Tek Bio.
Jejak Sejarah di Balik Pintu Merah Hok Tek Bio
Vihara yang lokasinya tepat di “pintu masuk” kawasan Surken ini bukan cuma sekadar tempat ibadah. Dibangun sekitar abad ke-18, Hok Tek Bio bener-bener jadi pusat gravitasi budaya. Begitu masuk ke sini, aroma hio yang khas langsung menyambut, bikin siapa pun ngerasa lagi ditarik ke masa lalu.
Warna merah yang dominan dan ukiran naga di tiang-tiangnya bukan cuma pajangan. Itu semua simbol harapan dan kemakmuran. Pas perayaan Imlek kemarin, vihara ini jadi titik kumpul paling sibuk. Dari ritual doa yang khusyuk sampai persiapan buat pawai akbar, semuanya berpusat di sini.
Kenapa Suryakencana Selalu Spesial?
Suryakencana, atau yang akrab dipanggil Surken sama anak muda Bogor, itu ibarat “ruang tamu” yang paling ramah. Sejak dulu, jalan sepanjang kurang lebih 1 kilometer ini sudah jadi melting pot. Bukan cuma buat warga keturunan Tionghoa, tapi semua warga Bogor tumpah ruah di sini.
Kerennya lagi, Surken itu punya aura yang beda. Pas malam hari, lampu lampion yang ngegantung di sepanjang jalan bikin suasana jadi estetik banget buat konten media sosial. Nggak heran kalau tiap perayaan Cap Go Meh, jalanan ini berubah jadi lautan manusia yang pengen liat atraksi barongsai dan liong.
Nggak lengkap rasanya kalau cuma liat dari luarnya aja. Menurut salah satu pengurus vihara, perayaan tahun ini tuh rasanya lebih dalem maknanya.
“Hok Tek Bio itu akarnya. Kita nggak cuma ngerayain tradisi, tapi juga ngerawat kebersamaan yang udah ada ratusan tahun di Bogor. Semua orang dari berbagai latar belakang dateng ke sini, itu yang bikin haru,” ujar Ayung, salah satu relawan di Vihara Dhanagun (dikutip dari Radar Bogor).
Bukan cuma dari sisi internal, pengamat budaya lokal juga punya pendapat menarik soal fenomena ini. Melansir dari Antara, perayaan di Bogor itu punya keunikan yang disebut “Bogor Street Festival”.
“Cap Go Meh di Bogor itu unik karena nuansa akulturasinya kuat banget. Ada sisingaan, ada barongsai, semua nyampur. Ini bukti kalau perbedaan itu justru yang bikin Bogor makin hidup,” kata Sandi, seorang penikmat budaya lokal.
Kalau ke Surken pas momen Imlek tapi nggak jajan, fix kalian rugi besar. Surken itu surga kuliner legendaris. Mulai dari Lumpia Basah, Soto Kuning Pak Yusuf, sampai camilan khas Imlek kayak Kue Keranjang yang mendadak muncul di setiap sudut jalan.
Interaksi antara penjual dan pembeli di sini tuh cair banget. Nggak ada sekat. Malah banyak pedagang yang bukan keturunan Tionghoa tapi ikutan dapet berkah dari ramainya pengunjung yang dateng ke Hok Tek Bio. Ini yang bikin kawasan ini tetep dicintai: ekonominya jalan, budayanya kejaga.
Tahun ini, harapan buat Bogor tetep sama jadi kota yang makin toleran. Hok Tek Bio dan Suryakencana bakal terus jadi pengingat kalau sejarah itu jangan cuma dibaca di buku, tapi dirasain lewat interaksi sehari-hari.
Kalau kalian mampir ke Bogor, sempetin deh jalan kaki dari gerbang Surken sampai ujung. Rasain sendiri gimana bangunan tua ini “ngomong” lewat detail-detail kecilnya. Dari aroma makanan sampai suara lonceng vihara, semuanya adalah bagian dari identitas Bogor yang nggak bakal ilang ditelan zaman.
Sumber:
-
Radar Bogor: Melihat Persiapan Imlek di Vihara Dhanagun
-
Antara News: Sejarah dan Toleransi di Kawasan Suryakencana Bogor
-
Portal Resmi Kota Bogor: Agenda Cap Go Meh – Bogor Street Festival
