Mengintip Keindahan Masjid Tjia Kang Hoo

Kalau kalian suka bangunan yang bukan sekadar tempat ibadah tapi juga karya arsitektur unik yang penuh cerita, Masjid Tjia Kang Hoo wajib masuk daftar kunjungan. Masjid yang berdiri di Jalan Haji Soleh, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur ini jadi pembicaraan netizen karena tampil beda dari masjid pada umumnya: dominasi warna merah dan emas, ornamen khas Tionghoa, dan bentuk bangunannya mengingatkan pada kelenteng.

Arsitektur yang Nyentrik, Nggak Bikin Mati Gaya

Masjid Tjia Kang Hoo tampil dengan ornamen yang mencuri perhatian. Aksen pagoda di atap, bentuk tiruan bangunan Tionghoa, hingga tulisan hanzi di beberapa bagian pintu masjid semuanya dirancang untuk memperlihatkan akar budaya yang kuat.

Pembangunan masjid sudah mencapai lebih dari 80% dan ruang ibadah kini sudah dipakai untuk shalat tarawih oleh jamaah. Luas bangunannya sendiri sekitar 297,5 meter persegi dan bisa menampung sekitar 250–300 jamaah.

Bagian dalamnya juga nggak kalah menarik. Area mimbar dan dinding dekatnya dilapisi bahan kuningan yang dibuat secara tradisional oleh perajin di Boyolali dengan ornamen tulisan Asmaul Husna, menunjukkan perhatian pada detil estetika sekaligus makna spiritual.

Nama masjid ini bukan sekadar unik, tapi punya alasan kuat di baliknya. Masjid Tjia Kang Hoo dinamai dari Tjia Kang Hoo, seorang warga keturunan Tionghoa yang kemudian mualaf dan berganti nama menjadi Haji Abdul Soleh.

Tanah tempat masjid berdiri dulu adalah rumahnya. Setelah beliau wafat, keluarga sepakat mengubah bekas rumah itu menjadi masjid agar leluhur dan kisah hidupnya tetap dikenang, sekaligus jadi ladang amal untuk generasi berikutnya.

Muhammad Wildan Hakiki, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Tjia Kang Hoo, menjelaskan bahwa pembangunan ini bukan sekadar buat ibadah biasa, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan budaya keluarga yang pernah hidup harmonis bersama warga Betawi dan etnis lain di sekitar Pekayon.

Simbol Toleransi & Kerukunan Umat

Uniknya lagi, pembangunan dan gaya masjid ini diterima baik oleh warga sekitar yang mayoritas keturunan Tionghoa dan sebagian besar masih memegang tradisi leluhur mereka. Bahkan, setiap Imlek pengurus masjid bersama warga memasang ratusan lampion di area sekitar masjid buat menghormati budaya lokal, tanpa bermaksud mengubah keyakinan siapa pun.

Pranowo, Ketua Yayasan Haji Abdul Soleh, bilang bahwa pemasangan lampion tersebut adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur, bukan bentuk pengikut keyakinan lain tapi sebagai cara untuk merangkul semua pihak dan tetap menjaga budaya setempat.

Pendekatan seperti ini bikin Masjid Tjia Kang Hoo jadi simbol toleransi beragama yang hidup. Ketika warga non-muslim ikut tersenyum melihat lampion merah menyala sepanjang jalan menuju masjid di malam hari, itu jadi bukti kalau keberagaman itu bisa dirayakan bersama tanpa gesekan berarti.i:

“Bangunannya unik banget. Pas Salat Tarawih suasananya adem, kayak ada keseimbangan antara budaya Tionghoa dan Islami.” pengunjung yang sering datang saat tarawih.

Orang lain yang tinggal di kawasan Pekayon juga bilang bahwa masjid ini jadi magnet baru buat wisata lokal. Mereka merasa bangga punya tempat ibadah yang nggak biasa, yang juga bisa dipakai buat belajar soal sejarah keluarga Tjia Kang Hoo dan kehidupan multikultural di Jakarta.

Masjid Tjia Kang Hoo bukan sekadar bangunan ibadah biasa. Dia hadir jadi jembatan antara budaya, sejarah keluarga, dan toleransi yang nyata di masyarakat Jakarta Timur. Baik dari sudut arsitektur hingga kegiatan komunitas seperti pemasangan lampion buat Imlek, semuanya nunjukin kalau keberagaman bukan cuma slogan — tapi bisa jadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sumber:

Cari Tempat Kursus Komputer di Bogor? Ini Pilihan Terbaik dan Terjangkau

Ide Ngabuburit Hemat di Situ Gede Bogor, Cocok untuk Anak Muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *