Kalau ngomongin soal pahlawan lingkungan di Indonesia, nama Aurélien Francis Brulé atau yang lebih akrab disapa Chanee Kalaweit pasti muncul di deretan paling atas. Pria kelahiran Prancis, 2 Juli 1979 ini bukan sekadar aktivis biasa. Dia adalah sosok yang rela meninggalkan kenyamanan di Eropa demi masuk ke jantung hutan Kalimantan dan Sumatera untuk menyelamatkan primata yang sering terlupakan: Owa (Gibbon).
Perjalanan Chanee dimulai sejak dia masih remaja. Bayangkan, di usia 18 tahun, saat anak-anak muda lainnya mungkin sibuk nongkrong atau kuliah, Chanee sudah mendarat di Indonesia pada tahun 1998 dengan satu misi besar: menyelamatkan Owa. Owa adalah primata setia yang dikenal dengan suara nyanyiannya yang merdu di pagi hari, namun populasinya terus terancam karena pembukaan lahan dan perdagangan ilegal.
Perjuangan dari Nol Lewat Yayasan Kalaweit
Chanee nggak main-main dengan visinya. Dia mendirikan Yayasan Kalaweit, yang sekarang jadi program konservasi owa terbesar di dunia. Fokusnya bukan cuma sekadar kasih makan satwa di kandang, tapi benar-benar melindungi habitat asli mereka. Chanee sadar betul kalau mau menyelamatkan hewan, kita harus menyelamatkan rumahnya dulu, yaitu hutan.
Strategi yang dia pakai cukup unik dan berani. Lewat Proyek Dulan, Chanee dan timnya bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk membeli lahan hutan agar tidak jatuh ke tangan perusahaan sawit atau pertambangan. Dengan cara ini, hutan tersebut “diamankan” dan dijadikan zona konservasi permanen.
Hingga tahun 2026 ini, ratusan owa telah berhasil direhabilitasi di pusat-pusat penangkaran milik Kalaweit. Salah satu pencapaian terbarunya adalah peresmian Owa Sanctuary Center di Barito Utara, Kalimantan Tengah, yang juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah.
Cinta Chanee pada alam Indonesia nggak cuma sebatas pekerjaan. Dia akhirnya resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan memilih tinggal di tengah hutan bersama istri dan anak-anaknya. Rumahnya pun sangat ramah lingkungan, menggunakan energi surya dan material kayu, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Gaya hidupnya yang autentik ini sering dia bagikan lewat kanal YouTube-nya, yang menginspirasi jutaan orang untuk lebih peduli pada isu lingkungan.
Namun, perjalanan ini nggak selalu mulus. Chanee sempat blak-blakan mengungkap tantangan yang dia hadapi, termasuk tekanan dari birokrasi di masa lalu yang sempat membatasi geraknya dalam menyuarakan isu konservasi di media sosial. Tapi, hal itu nggak bikin dia surut. Baginya, kejujuran tentang kondisi hutan adalah kunci agar masyarakat sadar betapa daruratnya situasi alam kita.
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, dalam kunjungannya ke pusat rehabilitasi Kalaweit baru-baru ini memberikan apresiasi tinggi. Beliau menegaskan:
“Perlindungan Owa dan hutan adalah tanggung jawab kita bersama. Kami akan terus mendukung penuh upaya pelestarian lingkungan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan seperti yang dilakukan Yayasan Kalaweit.”
Senada dengan hal itu, Felix Sonadie Y. Tingan, Wakil Bupati Barito Utara, juga memuji langkah konkret Chanee yang mampu menggandeng masyarakat Dayak setempat. Menurutnya, kolaborasi antara aktivis internasional yang sudah jadi WNI dengan kearifan lokal adalah kombinasi terbaik untuk menjaga paru-paru dunia.
Hutan Kalimantan bukan cuma soal pohon, tapi soal ekosistem yang menjaga keseimbangan iklim dunia. Owa, sebagai penghuni setianya, berperan penting sebagai penyebar biji-bijian yang membantu regenerasi hutan secara alami. Tanpa owa, hutan akan kehilangan “petani” alaminya.
Chanee sering mengingatkan kalau donasi atau dukungan kita bukan cuma buat dia, tapi buat masa depan anak cucu kita. Dia membuktikan kalau satu orang, dengan tekad yang kuat, bisa mengubah arah kehancuran menjadi harapan.
Sumber:
- Wikipedia Indonesia – Profil Chanee Kalaweit
- ANTARA News Kalteng – Menteri Kehutanan resmikan pusat konservasi Owa di Barito Utara
- Detik.com – Netizen Ajak Patungan Beli Hutan, Kalaweit Jadi Panutan
- Greatmind.id – Menyelamatkan Hutan Sekarang Juga (Wawancara Eksklusif)
- Kaltengtimes.co.id – Peresmian Rehabilitasi Owa oleh Menhut RI 2026


