Air bersih sering dianggap akan selalu tersedia selama keran masih mengalir. Padahal, sebagian besar kebutuhan air minum di dunia bergantung pada cadangan air tanah yang tersimpan di dalam akuifer. Saat pengambilan air terus meningkat sementara proses pengisian ulang berlangsung lambat, ancaman kekurangan air menjadi semakin nyata.
Laporan terbaru Deutsche Welle (DW) mengingatkan bahwa musim kemarau yang dipengaruhi perubahan iklim memperbesar risiko kekeringan, terutama ketika cadangan air tanah terus terkuras. Indonesia termasuk negara yang mulai merasakan dampaknya, terutama di wilayah Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sulawesi yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang.
Akuifer, “Tabungan Air” yang Tidak Terlihat
Akuifer merupakan lapisan batuan atau sedimen berpori yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tanah. Air hujan yang meresap ke dalam tanah akan tersimpan selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun sebelum akhirnya dimanfaatkan sebagai sumber air bersih.
Menurut UNESCO yang dikutip dalam laporan DW, hampir separuh kebutuhan air minum dunia berasal dari air tanah. Di Indonesia sendiri, air tanah masih menjadi sumber utama bagi banyak rumah tangga, industri, hingga kawasan yang belum terjangkau jaringan perpipaan.
Sayangnya, pemanfaatan air tanah tumbuh jauh lebih cepat dibanding proses pengisian alaminya. Akibatnya, muka air tanah terus menurun dan sumur harus digali semakin dalam untuk memperoleh pasokan air.
Beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang telah mengalami dampak eksploitasi air tanah dalam bentuk penurunan permukaan tanah atau land subsidence. Kondisi ini tidak hanya mengurangi cadangan air, tetapi juga meningkatkan risiko banjir rob di kawasan pesisir.
Perubahan Iklim Membuat Situasi Semakin Rumit
Perubahan pola hujan membuat air yang turun tidak lagi mudah terserap ke dalam tanah. Ketika hujan datang dengan intensitas tinggi, sebagian besar air langsung mengalir ke saluran drainase karena permukaan tanah telah tertutup beton, aspal, maupun bangunan.
Akibatnya, air hujan yang seharusnya menjadi cadangan untuk musim kemarau justru terbuang ke laut.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan air bukan hanya soal curah hujan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan lingkungan menyerap kembali air ke dalam tanah.
Teknologi Pengisian Ulang Akuifer Mulai Dilirik
Salah satu solusi yang mulai diterapkan di berbagai negara adalah Managed Aquifer Recharge (MAR) atau pengisian ulang akuifer secara terkelola.
Melalui metode ini, air hujan maupun limpasan banjir ditampung terlebih dahulu, kemudian disaring sebelum dialirkan ke sumur resapan atau kolam infiltrasi agar dapat kembali mengisi lapisan air tanah.
Keunggulan sistem ini adalah kehilangan air akibat penguapan jauh lebih kecil dibanding penyimpanan di waduk terbuka.
California, Amerika Serikat, misalnya, berhasil menyimpan miliaran meter kubik air ke dalam akuifer melalui proyek pengisian ulang air tanah sebagai strategi menghadapi banjir dan kekeringan yang datang silih berganti. Namibia juga telah memanfaatkan teknologi serupa sejak awal tahun 2000-an untuk menjaga ketersediaan air bersih.
Indonesia Sudah Memiliki Langkah Awal
Di Indonesia, pendekatan serupa sebenarnya sudah mulai diterapkan melalui pembangunan sumur resapan, embung, biopori, kolam retensi, hingga rehabilitasi daerah aliran sungai.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bahkan mengimbau masyarakat untuk memperbanyak pembangunan sumur resapan dan embung, khususnya di wilayah perkotaan yang memiliki tingkat infiltrasi rendah akibat dominasi permukaan beton. Langkah sederhana tersebut dinilai mampu membantu menjaga keseimbangan cadangan air tanah dalam jangka panjang.
Selain infrastruktur, pengendalian alih fungsi lahan juga menjadi bagian penting. Kawasan resapan yang berubah menjadi permukiman atau kawasan industri membuat kemampuan tanah menyerap air terus menurun.
Restorasi Sungai Jadi Solusi Berbasis Alam
Selain teknologi, solusi berbasis alam juga mendapat perhatian luas.
Restorasi sungai memungkinkan air meluap secara alami ke dataran banjir ketika debit meningkat. Air kemudian meresap perlahan ke dalam tanah sambil mengalami proses penyaringan alami oleh mikroorganisme.
Pendekatan ini bukan hanya membantu mengisi kembali akuifer, tetapi juga mengurangi risiko banjir sekaligus meningkatkan kualitas air tanah.
Di beberapa negara Afrika Timur, bendungan pasir (sand dam) bahkan digunakan untuk menahan endapan pasir yang berfungsi sebagai media penyimpan air alami selama musim hujan dan menjadi sumber air saat musim kemarau tiba.
Hidrogeolog Universitas Gadjah Mada, Prof. Heru Hendrayana, dalam pembahasannya mengenai keberlanjutan sumber air menjelaskan bahwa kawasan resapan memiliki peran penting dalam menjaga pasokan air tanah. Menurutnya, keberlangsungan sumber air tidak hanya ditentukan oleh banyaknya cadangan di bawah tanah, tetapi juga oleh kondisi lingkungan yang memungkinkan proses pengisian ulang berlangsung secara alami.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa menjaga daerah resapan jauh lebih murah dibanding mengatasi krisis air ketika cadangan akuifer sudah menurun drastis.
Menjaga Air Berarti Menjaga Masa Depan
Krisis air bukan sekadar persoalan berkurangnya hujan. Cara manusia memanfaatkan lahan, membangun kota, hingga menggunakan air tanah ikut menentukan apakah cadangan air tetap tersedia untuk generasi berikutnya.
Penguatan kawasan resapan, pembangunan sumur infiltrasi, rehabilitasi sungai, serta pengelolaan air tanah yang lebih bijak menjadi langkah yang saling melengkapi. Dengan menjaga akuifer tetap terisi, masyarakat tidak hanya memperoleh pasokan air bersih yang lebih stabil, tetapi juga membantu mengurangi risiko banjir, penurunan tanah, serta dampak perubahan iklim yang semakin terasa.
Sumber
- Deutsche Welle Indonesia – Bagaimana Lindungi Akuifer Alami dan Cegah Kebangkrutan Air?: https://www.dw.com/id/bagaimana-lindungi-akuifer-alami-dan-cegah-kebangkrutan-air/a-77991336
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) – Imbauan Mengamankan Cadangan Akuifer Air Tanah Dangkal: https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/kementerian-esdm-imbau-masyarakat-amankan-cadangan-akuifer-air-tanah-dangkal
- detikHealth – Pentingnya Kelestarian Lingkungan Bagi Ketersediaan Sumber Air Bersih: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8567434/pentingnya-kelestarian-lingkungan-bagi-ketersediaan-sumber-air-bersih

