Musim hujan sering membawa tantangan baru bagi masyarakat. Selain genangan yang mengganggu aktivitas, ada ancaman penyakit yang kerap muncul setelah banjir, salah satunya leptospirosis. Penyakit ini memang tidak selalu menjadi perhatian utama, padahal dampaknya bisa cukup serius jika terlambat ditangani.
Menurut informasi dari Alodokter, leptospirosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri tersebut menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus, kemudian mencemari air maupun tanah. Saat seseorang bersentuhan dengan air banjir yang telah terkontaminasi, bakteri dapat masuk ke tubuh melalui luka terbuka, mata, hidung, atau mulut.
Kasus leptospirosis biasanya meningkat setelah banjir karena semakin banyak masyarakat yang terpapar air yang berpotensi mengandung bakteri. Oleh sebab itu, mengenali gejala dan memahami langkah pencegahan menjadi hal yang sangat penting.
Gejala Awal Sering Mirip Flu
Salah satu alasan leptospirosis sering terlambat diketahui adalah karena gejalanya menyerupai penyakit ringan seperti flu atau demam biasa. Penderita umumnya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot terutama pada betis dan punggung, mata merah, mual, muntah, hingga diare.
Gejala tersebut biasanya muncul sekitar 5–14 hari setelah seseorang terpapar bakteri. Pada sebagian kasus, infeksi bisa berkembang menjadi lebih berat dan menyebabkan gangguan pada ginjal, hati, paru-paru, bahkan otak. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit Weil yang membutuhkan penanganan medis segera.
Karena gejalanya mirip dengan berbagai penyakit infeksi lain, pemeriksaan dokter dan tes laboratorium menjadi langkah penting agar diagnosis dapat ditegakkan lebih cepat.
Siapa yang Memiliki Risiko Lebih Tinggi?
Risiko leptospirosis tidak hanya dialami oleh warga yang tinggal di wilayah rawan banjir. Beberapa kelompok lain juga memiliki kemungkinan lebih besar terpapar bakteri, di antaranya:
- Petugas kebersihan dan pekerja saluran air.
- Petani dan peternak.
- Pekerja lapangan yang sering berada di area berlumpur.
- Relawan kebencanaan.
- Masyarakat yang membersihkan rumah setelah banjir tanpa alat pelindung.
Selain itu, seseorang yang memiliki luka terbuka pada kulit akan lebih mudah terinfeksi apabila kontak langsung dengan air yang telah tercemar.
Pencegahan Lebih Mudah daripada Mengobati
Leptospirosis sebenarnya dapat dicegah dengan langkah sederhana namun konsisten. Salah satunya adalah menghindari kontak langsung dengan air banjir apabila tidak benar-benar diperlukan.
Jika harus memasuki area banjir, gunakan sepatu bot karet, sarung tangan tahan air, dan tutup seluruh luka dengan perban kedap air. Air minum juga perlu dipastikan berasal dari sumber yang bersih atau direbus hingga matang.
Makanan yang kemungkinan telah terpapar air banjir sebaiknya tidak dikonsumsi karena berpotensi terkontaminasi bakteri maupun mikroorganisme lain. Lingkungan rumah juga perlu dijaga tetap bersih agar tidak menjadi tempat berkembangnya tikus sebagai pembawa utama bakteri Leptospira.
Kementerian Kesehatan Ingatkan Kewaspadaan Pascabencana
Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan bahwa leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang harus diwaspadai setelah banjir maupun tanah longsor. Dalam keterangannya, Kemenkes menjelaskan bahwa penyakit ini sering tidak terdeteksi sejak awal karena gejalanya menyerupai demam biasa.
Kementerian mengimbau fasilitas kesehatan agar meningkatkan kewaspadaan serta masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami demam setelah terpapar banjir. Penanganan yang cepat dapat menurunkan risiko komplikasi serius maupun kematian.
Dokter penyakit dalam yang dikutip KlikDokter menjelaskan bahwa banyak penderita menganggap gejala awal leptospirosis hanyalah kelelahan atau influenza. Padahal jika infeksi berkembang, bakteri dapat merusak berbagai organ penting sehingga membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit.
Para tenaga kesehatan juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengonsumsi antibiotik tanpa pemeriksaan dokter. Penggunaan antibiotik harus sesuai diagnosis dan anjuran medis agar terapi lebih efektif sekaligus mengurangi risiko resistensi bakteri.
Jangan Abaikan Demam Setelah Terpapar Banjir
Masyarakat sering lebih fokus membersihkan rumah dan lingkungan setelah banjir surut. Namun kondisi kesehatan juga perlu mendapat perhatian. Bila mengalami demam, nyeri otot, mata merah, atau keluhan lain beberapa hari setelah kontak dengan air banjir, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Semakin cepat leptospirosis dikenali, semakin besar peluang pasien pulih tanpa mengalami komplikasi. Kewaspadaan sederhana seperti menggunakan alat pelindung, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari kontak dengan air yang terkontaminasi menjadi langkah penting untuk melindungi diri dan keluarga.
Sumber
- Alodokter – Waspadai Leptospirosis, Penyakit di Kala Banjir: https://www.alodokter.com/leptospirosis-penyakit-di-kala-banjir
- Alodokter – Leptospirosis: https://www.alodokter.com/leptospirosis
- Kementerian Kesehatan RI – Kemenkes Siaga Penanggulangan Leptospirosis Pasca Bencana
- KlikDokter – Leptospirosis: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobati

