Jawa Barat – Sebuah langkah nyata buat nyelametin lingkungan lagi bergulir di kaki Gunung Ciremai. Bekas lahan tambang yang selama bertahun-tahun gersang dan rusak kini mulai berubah jadi lebih hijau. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) turun langsung ke lapangan dan ngasih sinyal kuat: para pekerja tambang harus dialihkan jadi pengelola hutan dan penjaga alam.
Seminggu terakhir, sejumlah area bekas galian ilegal di lereng Gunung Ciremai diperhatiin serius oleh Pemprov Jabar. Mulai dari lokasi bekas tambang batu yang kini ditanami pohon sampai pelibatan warga lokal buat jadi tim penghijauan terus dipacu.
Langkah ini bukan sekadar wacana. Dedi Mulyadi udah beberapa kali turun langsung ke lokasi bekas tambang buat inspeksi, ngobrol sama masyarakat, dan beri arah ke warga soal masa depan kawasan hutan.
Menurut data dari Pemprov Jabar, langkah awal pemulihan udah dimulai di lahan seluas 12 hektare dengan target penanaman sekitar 500 batang pohon. Rencananya program ini bakal diperluas lagi sampai ratusan hektare.
Kalau dulu area ini dikenal banyak galian batu ilegal yang ninggalin lubang tanah dan bikin tanah gundul, sekarang pemandangannya mulai berubah: banyak bibit pohon yang ditanam bareng mantan pekerja tambang yang kini jadi pengelola hutan.
Gak cuma berhenti di kata-kata, Pemprov Jabar ngasih kesempatan nyata buat mantan pekerja tambang. Mereka diajak ikut menanam pohon di bawah arahan dinas kehutanan dan kini udah mulai belajar jadi “penjaga hutan” di bekas lahan galian.
Salah satu contoh: di Desa Padabeunghar, Kuningan, ratusan batang pohon udah ditanam bareng warga lokal dan mantan buruh tambang. Jenis tanaman yang dipilih campur antara pohon produktif kayak petai, nangka, sukun, sama tanaman hutan yang sesuai kondisi tanah setempat.
Program Penghasilan Warga dan Lingkungan
Dedi Mulyadi gak pelit soal solusi ekonomi. Ia janji para pekerja yang dulu menggantungkan hidup dari tambang bisa tetap punya penghasilan selama beralih profesi jadi pelaku penghijauan.
Pemprov Jabar merancang skema penghasilan bagi warga yang ikut reboisasi dan rawat lahan, dengan gaji antara Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta per bulan tergantung tingkat kesulitan dan lokasi kerja.
Program ini juga dikombinasi dengan pemberian beberapa ekor ternak, seperti domba, supaya warga punya peluang ekonomi lain selain cuma nunggu gaji bulanan.
Dedi Mulyadi juga tekankan pentingnya aspek lingkungan lebih luas di kawasan Gunung Ciremai. Ia bilang kalau hutan terus rusak karena penambangan dan aktivitas lain, masyarakat bakal kena imbasnya, seperti krisis air bersih dan ancaman banjir atau longsor.
Menurutnya, perlindungan kawasan hutan bukan sekadar tanam pohon seremonial doang, tetapi benar-benar harus dikelola dengan sistem yang betul, berkelanjutan, dan ngelibatin warga sebagai bagian dari solusi.
“Ada contoh positif di beberapa wilayah lain dimana bekas tambang bisa berubah jadi ruang hijau produktif lewat keterlibatan warga lokal,” ujar salah satu aktivis lingkungan.
Beberapa tokoh masyarakat juga nyoroti bahwa solusi kayak gaji penghijauan sambil belajar jadi penjaga alam ini bisa jadi blueprint buat program serupa di wilayah lain yang punya masalah tambang ilegal.
Meski begitu, tantangan masih banyak. Pemerintah mesti terus pastiin bahwa lahan yang udah direklamasi tetep dirawat, jangan sampai setelah ditanami ditinggal lagi. Tingkat partisipasi warga juga harus terus dijaga biar program ini gak cuma sesaat.
Yang pasti, perubahan ini udah nampak di lapangan areal bekas tambang yang dulu cuma tanah gersang kini berangsur hijau, dan para pekerja tambang pun mulai pegang peran penting sebagai pengelola hutan baru di kaki Gunung Ciremai.
📌 Sumber:
• Telusuri Kaki Gunung Ciremai | KDM Temukan Banyak Tambang Liar – YouTube
• Areal Tambang Kini Ditanami Pohon, Pekerja Jadi Pengelola Hutan – Bapenda Jabar
• Gubernur Jawa Barat Siapkan Hutan Baru di Gunung Ciremai – Radar Bogor
• Dedi Mulyadi Akan Gaji Warga untuk Pulihkan Gunung Ciremai – Liputan6

